Menoleh Hilirisasi Produk Riset dari Iran

Created on Thursday, 27 August 2015
Iran hanya butuh satu dasa warsa mewujudkan kawasan industri berbasis riset. Indonesia perlu menoleh hilirisasi produk riset agar daya saing bangsa sejajar dengan negara Asia lain yang tumbuh pesat, seperti Korea Selatan (Korsel).

 

Semangat berapi-api ditunjukan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir saat membeberkan mimpinya menjadikan hasil riset dan inovasi sebagai tulang punggung kemajuan bangsa. Sepertinya halnya Silicon Valley di Amerika Serikat (AS) atau Tsukuba di Jepang, techno park di Indonesia nantinya menjadi pusat inovasi bagi para inventor.

Indonesia bisa meniru Iran yang mampu merancang dan mewujudkan kawasan Pardis Techno Park yang kini dihuni oleh 3.000 industri berbasis riset dan inovasi. Tidak kurang dari 300 juta dollar AS, setara Rp 4,2 triliun, yang dibenamkan pihak swasta di kawasan ini. Dukungan infrastruktur dan sarana lainnya ditunjukkan Pemerintah Iran dengan menggelontorkan 20 juta dollar AS atau setara Rp 280 miliar.

“Di IPB akan kami bangunkan satu lokasi untuk pertanian. Di ITB dengan engineering-nya. UGM dalam life science. Kalau di Undip Semarang itu sudah ada marine techno park,” kata Nasir.

Direktur Jenderal (Dirjen) Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Muhammad Dimyati mengatakan, Indonesia perlu belajar dari Iran dalam hal mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Semangat mereka untuk mandiri maupun kepercayaan dirinya luar biasa.

Menurut Dimyati, pengembangan Iptek di Iran berhasil karena para pelaku teknologi bekerja secara sistematis. Ia mencontohkan, di Iran ada pembangunan techno park yang menjadi pusat aplikasi teknologi yang mempertemukan para peneliti dengan dunia industri.

Dimyati menjelaskan, pembangunan techno park di Iran diawali kesepakatan antar-industri. Kesepakatan tersebut lantas dirumuskan dalam rencana induk (grand design) atau buku biru (blue book).

“Rencana induk tersebut menjadi patokan target waktu dan ukuran capaian mereka. Mereka perlu waktu dua tahun untuk menyusunnya,” ucap Dimyati.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 45

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia