BPTP Sulteng Terapkan Inovasi Panca Kelola di Lahan Kering

Created on Friday, 12 January 2018
BPTP Sulteng mulai menerapkan inovasi panca kelola untuk merehabilitasi lahan kering. Upaya mengubah lahan menjadi lebih produktif ini diawali di Bulupountu, Kabupaten Sigi.

 

Desa Bulupountu, Kabupaten Sigi merupakan satu dari sekian banyak lokasi lahan kering yang memiliki permasalah-an lahan organik di Sulawesi Tengah. Selain itu, sebagaimana lahan kering pada umumnya, wilayah ini juga memiliki ketersediaan fosfat serta daya pegang air (water holding capacity) yang rendah. Sehingga untuk mengoptimalkan pemanfaatannya, upaya rehabilitasi lahan ini mutlak harus dilakukan. 

“Selama ini pemanfaatan lahan kering untuk pertanian belum optimal, sehingga dibutuhkan inovasi teknologi spesifik lokasi dan tepat guna. Mengelola lahan kering butuh pengelolaan spesifik, mulai dari ketersediaan air, bahan organik, jenis tanaman yang bisa dikembangkan serta cocok, dan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah,” ujar Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah (BPTP Sulteng), Andi Baso Lompengeng Ishak.

Andi menambahkan, pemanfaatan lahan harus didukung dengan tata kelola air yang sesuai. Penggunaan sprinkle dengan sistem pengairan dan berdasarkan kebutuhan tanaman per fase pertumbuhan, terbukti mampu mengoptimalkan penggunaan air lahan ke-ring. “Pengolahan limbah pertanian yang tersedia melimpah untuk dijadikan pupuk organik juga mampu meningkatkan efektivitas usaha tani dan ternak,” tambah Andi saat kegiatan Pengembangan Pertanian Lahan Kering Iklim Kering Melalui Implementasi Panca Kalola Lahan di Bulupountu (14/12).

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 73 Januari 2018

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia