Ekonomi dan Politik Menyulitkan Pengembangan Energi Alternatif

Created on Friday, 02 November 2012

artikel-sainsekonomi

Kebijakan "blue energy" membutuhkan revolusi energi yang tidak murah mengingat modal yang sudah diinvestasikan untuk eksplorasi dan pengembangan energi migas sudah sangat besar.

Energi murah dan berlimpah, siapa yang tidak ingin? Blue energy menjadi energi alternatif yang sangat menjanjikan.

Air sebagai bahan baku mudah didapatkan di seluruh dunia, tinggal melakukan elektrolisis, memisahkan antara hidrogen dan oksigen, terbentuklah hidrogen sebagai bahan baku energi. Namun, kenyataannya tidaklah mudah, bukan hanya aspek teknologi, ada aspek lain, yaitu ekonomi dan politik.

Kebijakan blue energy membutuhkan revolusi energi yang tidak murah mengingat modal yang sudah diinvestasikan untuk eksplorasi dan pengembangan energi migas sudah sangat besar.

Tercatat, perusahaan AS saja sudah membenamkan miliaran dolar untuk kegiatan eksplorasi migas. Ini bisa menjadi pengeluaran biaya yang mubazir sekiranya kebijakan blue energy, mengubah air menjadi bahan bakar berhasil diterapkan. Banyak perusahaan migas yang akan gulung tikar karena migas sudah bukan primadona lagi.

Saat ini minyak bumi masih menjadi primadona, dan penggunaannya sudah bergeser menjadi alat menyimpan kekayaan (resource assets). Di Amerika Serikat (AS), peran migas sebagai alat menyimpan kekayaan negara, membuat nilainya mendekati barang ekslusif seperti emas dan berlian.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 11

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia