Robot Gantikan Dokter di Masa Depan

Created on Saturday, 29 March 2014
Di meja operasi di salah satu rumah sakit, dengan hati-hati seorang dokter membuat torehan untuk mengangkat kanker yang bersarang di dalam tubuh pasien. Hebatnya, si dokter menggunakan robot sebagai asisten.

 

Operasi dengan robot memang telah terbukti dalam banyak penelitian memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar jika dibandingkan dengan operasi dilakukan oleh manusia. Bukan hal mustahil bila di masa depan prosedur operasi dilakukan oleh robot seluruhnya.

Kesimpulan tersebut didapatkan melalui studi yang dilakukan oleh Dr Jim Hu dan Professor Henry E Singleton dari University of California, Los Angeles. Mereka membandingkan 5.556 pasien penerima operasi pengangkatan kanker prostat menggunakan peralatan robotik—istilahnya, robotic-assisted radical prostactectomy (operasi robotik)—dengan 7.878 pasien penerima operasi biasa atau open surgery.

Berdasarkan laporan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal medis European Urology, medio Februari lalu, mereka menemukan bahwa operasi robotik memiliki 5% peluang keberhasilan operasi yang lebih tinggi. Operasi biasa umumnya masih meninggalkan sel kanker dalam tubuh pasien. Bagi penderita kanker prostat, hal ini dapat berujung pada risiko kanker muncul kembali dan membunuh si pasien.

Tim peneliti juga menilai penggunaan terapi kanker tambahan, misalnya terapi hormon atau radiasi, setelah operasi robotik dan operasi biasa. Hasilnya, operasi robotik mengurangi prospek pasien untuk melalui terapi tambahan sebanyak 1/3 selama 24 bulan setelah operasi.

“Meski membutuhkan biaya mahal, operasi robotik mengurangi biaya di hilir (biaya terapi, obat, dan lain sebagainya) serta mencegah efek samping yang ditimbulkan oleh terapi hormon dan radiasi,” tutur juru bicara tim peneliti.

Penggunaan robot untuk membantu operasi pertama kali dilakukan di tahun 1984. Saat itu, robot bernama “Heartthrob” yang dikembangkan oleh trio engineer dari University of British Columbia membantu operasi ortopedik seorang pasien di Vancouver, Kanada. Setahun kemudian, jurnalis National Geographic menyertakan robot tersebut dalam sebuah video berjudul “The Robotics Revolution” (revolusi robot).

Artikel selengkapnya bisa Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 28

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia