Saatnya Kembangkan Gedung Ramah Lingkungan (2)

Created on Friday, 03 May 2013

10.-properti Menjawab tantangan zaman dan keterbatasan energi, semua pihak harus aktif mengimplementasikan konsep pembangunan gedung yang ramah lingkungan. Itu mudah diaplikasikan dengan bahan yang murah.

Tim peneliti dari Pusat Litbang Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengembangkan gedung ramah lingkungan (green building) berteknologi tinggi. Sistem tata airnya zero run off (semua air diresapkan kembali ke dalam tanah), pencahayaan dan penghawaan ruangan alami, gedung ini juga dilengkapi dengan sub-reservoir yang mampu menampung air 325 meter kubik.

Konsep green building diaplikasikan pada Gedung Puskim Convention Center Grha Wiksa Praniti di Jalan Turangga, Bandung, yang baru-baru ini diresmikan Menteri PU Djoko Kirmato. Gedung hemat energi ini tercermin dari arsitektur bangunan yang menerapkan teknologi serba ramah lingkungan dan sesuai dengan kondisi alam atau iklim setempat. Konsep tersebut melekat hampir di seluruh bangunan.

Sistem pencahayaan ruangan misalnya, menggunakan konsep green fasade, yaitu penataan bukaan untuk pemanfaatan pencahayaan dan penghawaan alami. Hal ini ditunjukkan dengan dominasi jendela kaca dan ventilasi udara. Praktis, di siang hari, di dalam gedung tidak perlu menggunakan lampu penerangan.

Penataan sirkulasi udara menggunakan konsep sirkulasi udara bersilang (cross ventilation). Tidak mengherankan, saat berada di dalam gedung, suhu terasa dingin sehingga tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC). Begitu halnya dengan lampu-lampu yang dipasang di teras, taman, dan halaman parkir, semua memanfaatkan energi surya. Gedung juga dilengkapi dengan sistem pemanfaatan air hujan sebagai cadangan kebutuhan air.

Daur Ulang

Material bangunan pintu, menggunakan bahan hasil daur ulang untuk komponen non struktural. Komponen non struktural ini adalah partisi dinding papan partikel semen yang merupakan kombinasi antara semen dan kayu yang sudah tidak terpakai.

Konsep hijau juga diterapkan di halaman. Karena itulah, di lahan seluas satu hektar ini tidak seluruhnya dialokasikan untuk gedung. Sisa lahannya dijadikan sebagai taman, ruang terbuka, kolam sanita, dan sumur resapan air hujan. Penataan ruang terbuka untuk penghijauan sebagai upaya pengendalian mikro dan resapan hujan.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 17

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia