Sistem Pengelolaan Air Terpadu Sejahterakan Masyarakat di DAS

Created on Thursday, 28 August 2014

Warga yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) kerap dilanda masalah kesehatan dan kelangkaan air bersih akibat tercemarnya badan sungai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman (Puskim) berusaha mengatasi masalah itu dengan sistem pengelolaan air terpadu.

 

Gaya hidup masyarakat merupakan salah satu penyebab tercemarnya badan sungai. Sampah dan limbah domestik yang dibuang begitu saja, ujung-ujungnya menjadikan sungai sebagai sumber penyakit. Keterbatasan air bersih dan sanitasi jadi masalah yang umum ditemukan di pemukiman sekitar DAS.

Puskim mencatat, tidak terkelolanya limbah menyebabkan pencemaran air tanah dan air permukaan sekitar 50-70%. Di DAS Bengawan Solo, misalnya, tingkat pencemaran air jauh di atas ambang batas baku mutu. Sedangkan di DAS Citarik, Desa Sindang Pakuon, Jawa Barat, air sungai banyak dicemari oleh bahan organik dari pupuk sisa pertanian. Hal serupa terjadi di DAS lain, seperti Citarum (Kabupaten Bandung) dan Ciliwung (Depok).

Selain gaya hidup, kurang layaknya sanitasi juga merupakan sumber masalah bagi warga DAS. Teknologi penerapan air minum dan pengendalian pencemaran yang dipakai tidak terintegrasi serta belum sesuai dengan konsep-konsep ekologi.

Harus Terpadu

Para peneliti Puskim turun ke berbagai kawasan DAS di Indonesia untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ada dua hal yang jadi perhatian, yaitu pengolahan air dan sanitasi. “Hal ini sesuai dengan PP No 15 tahun 2006  yang menyatakan kalau sistem penyediaan air minum harus terpadu dengan pengembangan sanitasi,” ujar peneliti dari Balai Air Minum Puskim, Dadang Soban kepada Majalah Sains Indonesia.

Ditemui pada pameran RITECH Expo di Jakarta, beberapa waktu lalu, Dadang menjelaskan beberapa teknologi hasil pengembangan Puskim yang berperan dalam pencapaian itu. Penerapan teknologi-teknologi itu terbukti ampuh dalam menyaring dan mengolah air kotor dari sungai.

“Tingkat pencemaran air turun drastis, jauh di bawah ambang batas baku mutu. Di Bengawan Solo, misalnya, konsentrasi polutan turun dari 90 ppm (part per million, satu per sejuta) jadi 10-20 ppm,” jelas Dadang.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 33

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia