Bata Tanpa Bakar, Bahan Bangunan Ramah Lingkungan

Created on Sunday, 29 June 2014

Batang-batang kayu dimasukkan ke dalam tungku pembakaran bata merah, melepas asap kaya-CO2 ­ke atmosfer. Pemandangan itu menginspirasi Rudi Setiadji, peneliti dari Balai Bahan Bangunan di Puslitbangtan Pemukiman (Puskim) untuk mengembangkan bata tanpa bakar yang ramah lingkungan.

 

Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah terkenal sebagai daerah penghasil batu bata kualitas terbaik. Batu bata Temanggung memiliki kekhasan karakteristik tekstur yang lembut, kuat, dan tahan terhadap cuaca ekstrem. Persediaan tanah liat yang cukup melimpah membuat bisnis genteng dan batu bata jadi andalan warga Temanggung.

Namun, produksi batu bata dengan cara konvensional belum ramah lingkungan karena masih menyertakan pembakaran (firing). Proses ini meninggalkan jejak CO2 serta gas-gas rumah kaca lainnya di atmosfer. Penggunaan kayu sebagai bahan bakar juga berarti ada banyak pohon yang mesti ditebang.

Pembakaran bertujuan membuat tanah liat menjadi padat dan keras dengan memaparkannya pada suhu yang kenaikan temperatur secara berjenjang. Proses transformasi ini disebut vitrifikasi, yang terjadi dalam dua tahap. Pertama,  penyatuan awal (incipient fusion); ketika partikel tanah liat menyatu dalam massa ketika didinginkan. Kedua, pelelahan partikel tanah sehingga menghasilkan bentuk yang padat, keras, serta tahan serapan (non absorbent).

Metode Alternatif

Rudi Setiadji dan kawan-kawan memutar otak untuk mencari metode alternatif yang lebih ramah lingkungan. Mereka lalu menemukan kalau peneliti lain telah menggunakan campuran tanah-bahan polimer untuk membuat mortar. Cara ini disebut stabilitas tanah, yakni mencampurkan tanah liat dengan bahan lain yang bisa membuatnya jadi padat.

“Kami coba terapkan itu pada pembuatan batu bata dengan tanah liat dari Temanggung,” ungkap Rudi kepada Majalah Sains Indonesia ketika ditemui di acara Kolokium Litbang Pemukiman 2014, Bandung, baru-baru ini.

Artikel selengkapnya bisa Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 31.

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia