“Reinkarnasi” KRI I Gusti Ngurah Rai: Dari 344 Ke 332

Created on Tuesday, 12 December 2017
 

 

Nama Pahlawan Nasional asal Bali, Letkol I Gusti Ngurah Rai tetap abadi. Kapal perang terbaru dan paling modern milik TNI AL, jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali (Perusak Kawal Rudal - PKR) KRI I Gusti Ngurai Rai-332, resmi dikukuhkan masuk jajaran Armada RI pada 30 Oktober 2017.

Ia menggantikan Kapal Perusak Kawal sebelumnya, yaitu KRI Ngurah Rai-344, ex kapal perang AL-AS, USS McMorris-DE 1036, yang masuk jajaran armada RI pada tahun 1974 dan telah pensiun pada tahun 2003.  Ini adalah proses “reinkarnasi” kapal perusak kawal (destroyer escort) dari teknologi 1960-an menjadi kapal sejenis dengan teknologi paling mutakhir. Nomor lambung kapal berubah dari 344 menjadi 332, namun tetap mempertahankan nomor awal 3 sebagai penanda kapal perang jenis eskorta, yang satu kelompok dengan kapal-kapal frigat dan korvet, namun berbeda dengan kelompok kapal selam yang nomor lambungnya diawali dengan angka 4 atau kapal-kapal cepat yang nomor lambungnya diawali dengan angka 6, seperti KRI Mandau-621 dan KRI Singa-651. Untuk satuan kapal-kapal amfibi, nomor lambungnya diawali dengan angka 5, seperti KRI Makassar-590, KRI Teluk Jakarta-541, KRI Banda Aceh-593. Nomor lambung kapal-kapal ranjau diawali dengan angka 7, sedang kapal-kapal pat-roli nomor lambungnya diawali dengan angka 8.

 

Kehadiran KRI Ngurah Rai-332 melewati proses alih-teknologi dan pening-katan kandungan lokal yang panjang, terukur dan berlanjut. Diawali dengan program kerja sama pembangunan kapal-kapal korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach), yang rancang-bangunnya dibuat secara modul dan anti-radar, antara Galangan DAMEN SCHELDE-Belanda dengan PT PAL Surabaya. Sekitar 70 insinyur PT PAL dilibatkan langsung dalam program pembangunan dan alih teknologi di Belanda.

Dari Program ini muncul dari galangan DAMEN-Belanda kapal-kapal korvet kelas SIGMA-9113, yaitu KRI Diponegoro-365 yang mulai beroperasi tahun 2007, kemudian KRI Sultan Hasanuddin-366 (2007), KRI Sultan Iskandar Muda-367 (2008) dan KRI Frans Kaisiepo-368 (2009).

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 72 Desember 2017

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia