Dari Cougar Ke Puma

Created on Tuesday, 17 January 2017

Wajah sumringah Mente-ri Pertahanan, Ryami-zard Ryacudu, muncul di pintu helikopter SAR Tempur TNI AU jenis EC-725 Cougar TNI AU buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) bekerja sama dengan Airbus Helicopters, sembari mengarahkan senapan mesin FN MAG/SPM-2 kaliber 7,62 mm untuk action di depan kamera awak media. Suasana di hanggar PT DI, Bandung, 25 November 2016 lalu, memperlihatkan wujud bangga, haru sekaligus syukur. Dua dari enam pesawat SAR Tempur TNI AU pesanan Kemhan, yang pembuatannya telah terlambat sekitar 1 tahun, akhirnya diserahkan kepada sang pemesan.  Direncanakan, 4 sisanya segera diserahkan pada tahun 2017 ini.

Sudah sekian lama TNI AU membutuhkan helikopter SAR tempur yang baru guna menggantikan helikopter jenis Puma di Skadron-6 dan jenis Super Puma di Skadron-8 yang sudah beroperasi lebih dari 30 tahun, keduanya berpangkalan di Lanuma Atang Sanjaya, Bogor.  Dipilihnya helikopter jenis EC-725 Cougar sebagai pengganti Puma dan Super Puma didasarkan pada kebijakan pemberian nilai tambah dan alih teknologi sekaligus peningkatan kemampuan industri pertahanan dalam negeri. Ini adalah kebijakan Pemerintah yang tepat.

Sang pendahulu, heli Puma dan Super Puma, adalah juga buatan PT DI (d/h PT Industri Pesawat Terbang Nasional – IPTN) bekerja sama dengan Aerospatiale, Prancis, di dekade 1980-an. Sekarang, Aerospatiale telah melebur kedalam Airbus Helicopters dan bekerja sama dengan PT DI guna membangun helikopter yang lebih besar, lebih garang dengan peralatan navigasi lebih canggih. Ukuran Cougar yang lebih besar mampu mengangkut hingga 29 pasukan tempur bersenjata lengkap, dibanding heli Puma yang hanya mampu mengangkut 16 prajurit.  

Kokpit heli Cougar sudah serba digital dan dihubungkan secara elektronik ke sang pilot yang memakai helm dengan perangkat night vision goggles, sehingga bisa bermanuver di malam hari. Untuk operasi SAR, heli Cougar dilengkapi kamera Forward Looking Infrared (FLIR) sehingga bisa mencari dan menyelamatkan prajurit yang hilang di medan pertempuran pada siang hari maupun pada malam hari.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 61

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia