Riset Stem Cell di Indonesia Semakin Berkembang

Presiden: Gerakan Menanam Jangan Bombastis

Equinox Tidak Perlu Dikhawatirkan

Akhir bulan lalu masyarakat dihebohkan sebuah pesan berantai. Isinya menyebutkan akan terjadi fenomena equinox di Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Parahnya, kejadian ini disinyalir mengakibatkan perubahan iklim signifikan hingga 40°C. 

Lantas apa itu equinox? Dan bagaimana dampaknya? Seperti kita ketahui, planet bergerak mengelilingi pusat sistem tata surya dalam orbit berbentuk elips (tidak bulat). Fenomena ketika bumi berada dalam jarak terdekat dengan matahari inilah yang disebut equinox. Akibatnya bumi menjadi lebih panas lantaran sinar matahari terjadi paling intens di siang hari.

Dalam rilis yang diterima Majalah Sains Indonesia, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus S Swarinoto menegaskan equinox sebagai salah satu peristiwa astronomi biasa yang tidak perlu dikhawatirkan. Fenomena ini secara periodik terjadi dua kali dalam setahun, yaitu 21 Maret dan 23 September.

Saat equinox berlangsung, matahari melintasi garis khatulistiwa. Artinya, nyaris seluruh bagian bumi punya durasi siang dan malam hampir relatif sama, termasuk wilayah subtropis utara dan selatan. Ia tidak seperti heat wave yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama.

Keberadaan equinox tidak selalu meningkatkan suhu udara secara drastis, melainkan hanya meningkat sekitar 2-3°C saja. Sehingga apabila dikaitkan dengan rata-rata suhu maksimal Indonesia yang bisa mencapai 32-36°C, maka ketika fenomena ini terjadi, suhu tertinggi tidak sampai 40°C.

Faris Sabilar Rusydi

BPDS Gandeng Tiga Balitbang untuk Kembangkan Perkebunan Sawit

 

Untuk mendukung riset perkebunan kelapa sawit di Indonesia, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPS) resmi menggandeng tiga Balitbang. Masing-masing dari Kementerian Pertanian, Kementerian ESDM, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  

MOU kerja sama dalam riset dan pengembangan perkebunan kelapa sawit  telah ditandatangani oleh pimpinan keempat lembaga. Yakni Kepala BPDPKS Bayu Krisnamurti, Kepala Balitbangtan M Sakir, Ka Balitbang ESDM FX Sutijastoto MA, dan Ka Balitbang LHK Henry Bastaman.  

Menurut Bayu, BPDPKS sebagai badan yang ditunjuk untuk mengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit mendapatkan tugas untuk mendorong penelitian dan pengembangan perkebunan kelapa sawit. Hal ini merupakan salah satu di antara upaya BPDPKS untuk melakukan penguatan, pengembangan dan peningkatan pemberdayaan perkebunan dan industri kelapa sawit nasional yang saling bersinergi di sektor hulu dan hilir agar terwujud perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Slamet Widayadi

BIG Targetkan 3.100 Peta Desa Rampung Tahun Ini

 

Kebutuhan terhadap data geospasial yang merangkum potensi desa dan wilayah perdesaan semakin mendesak. Badan Informasi Geo-spasial (BIG) menargetkan pemetaan 3.100 desa rampung hingga akhir tahun ini.

Kepada Majalah Sains Indonesia, Kepala BIG Priyadi Kardono mengungkapkan pihaknya telah menyelesaikan pemetaan untuk 600 desa. “Jumlah ini masih sebagian target pemetaan 3.100 desa di tahun 2016 ini,” jelas Priyadi. Peta desa yang telah rampung pun telah resmi diluncurkan BIG di Jakarta Selasa (16/2).

Lebih lanjut Priyadi mengatakan kegiatan pembangunan daerah salah satunya harus bisa ditetapkan dalam bentuk data spasial. “Jadi akan semakin kelihatan arah pengembangannya. Dana desa juga akan terlihat, mana yang digunakan untuk pembangunan fisik dan non fisik seperti untuk sosial, dan lainnya ini akan lebih jelas,” papar Priyadi.

“Target 3.100 desa ini cukup berat. Tapi dengan kebijakan one map policy dan dukungan semua pihak, kita optmistis ini bisa tercapai,” lanjut Priyadi.

Faris Sabilar Rusydi

Bapeten Pastikan Muatan Kapal MV Ocean Bukan Limbah Nuklir

 

Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (Bapeten) memastikan mu-atan Kapal MV Ocean berbendera Hongkong, bukan limbah nuklir. Kapal yang berangkat dari Iran menuju Yangjian, China tersebut kandas di perairan Batu, sebelah utara Pulau Sambu Kepulauan Riau, pada Rabu, 3 Februari 2016 lalu.

Menurut Humas Bapeten, M Ridwan, pihaknya sudah mengirim tim Satuan Tanggap Darurat (STD) untuk menyelidiki kebenaran berita bahwa kapal kargo berbendera Hongkong, MV Ocean Carrier, membawa pasir bermuatan limbah nuklir. 

Berdasarkan hasil pengukuran paparan radiasi yang dilakukan, disimpulkan bahwa tidak ada paparan radiasi berlebih di titik-titik pengukuran, serta tidak ada indikasi keberadaan limbah nuklir, Uranium atau radionuklida lain pada pasir besi di dalam palka. Untuk memastikan hasil pengukuran, STD Bapeten membawa sampel pasir besi untuk diidentifikasi lebih lanjut di laboratorium milik Bapeten.

Setia Lesmana

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia