Tak Sulit Memproduksi Benih Udang Windu Berkualitas

Created on Wednesday, 08 January 2014
“Si bongkok dari Indonesia” yang berdiam di dasar bak-bak fiber itu dikondisikan untuk menghasilkan benih-benih berkualitas.

 

Tak sembarang orang boleh masuk ke ruang pembenihan yang juga dinamakan Nucleus Center tersebut. Setiap pengunjung yang masuk diwajibkan melalui serangkaian proses sterilisasi yang ketat. Hal ini untuk menjaga calon induk dan benih terkena penyakit. Begitulah prosedur biosekuriti yang diterapkan di Instalasi Pembenihan Udang Windu (IPUW) binaan Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP).

Instalasi yang diresmikan pada awal Desember lalu di Desa Lawallu, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan ini berfokus pada pengembangan benih dan calon induk unggulan serta tahan penyakit. Sejak difokuskan pada Litbang pembenihan udang windu di tahun 2011, para peneliti IPUW melalui bioteknologi telah mengembangkan galur udang windu yang tahan penyakit (TP).

Perakitan galur TP dilakukan dengan metode transgenesis yang telah sukses diterapkan pada udang vanamei. Peneliti di BPPBAP, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), memodifikasi metode tersebut untuk udang windu. Udang windu galur TP terbukti memiliki peningkatan ketahanan terhadap virus penyebab white spot syndrome (sindrom bintik putih/WSSV) sebanyak 24,5 persen serta terhadap bakteri Vibrio harveyi penyebab penyakit vibriosis sebayak 67 persen dengan nilai relative percent survival (RPS) 64,3-66,7 persen. Hasil ini sangat memuaskan, mengingat produksi udang Indonesia sempat menurun karena wabah WSSV selama dasawarsa terakhir.

Instalasi yang didirikan di atas lahan seluas 12 ha ini terdiri dari gedung karantina, Nucleus Center (NC), Multiplication Center (MC), laboratorium bioteknologi, tambak produksi induk, gedung produksi massal larva, sistem pengolahan air sumber, dan beberapa fasilitas penunjang seperti gedung kantor dan dormitori.
NC merupakan tempat merawat calon induk yang telah terbukti bebas penyakit sampai siap untuk bertelur.  Telur ditetaskan di ruangan khusus dengan pencahayaan minim kemudian dirawat dari tahap naupli sampai pascalarva berumur 12 hari (PL-12). Sejumlah larva PL-12 didistribusikan ke masyarakat sebagai benih unggul. Sisanya, dipelihara di MC sampai tahap juvenil kemudian dibesarkan sebagai calon induk secara indoor.Untuk produksi larva dalam jumlah massal, dilakukan di gedung khusus.

Artikel selengkapnya bisa Anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 25. 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia