Perikanan Budidaya Masa Depan Poros Maritim

Created on Thursday, 25 June 2015
Hamparan tanaman rumput laut di Perairan Selat Tiworo, Muna Barat, Sulawesi Tenggara terlihat berbeda dibanding daerah-daerah lain. Rumput laut ditanam secara vertikultur (beberapa lapis ke bawah) pada kolom air. Hasil panennya lima kali lebih tinggi dibanding cara konvensional dengan masa panen 10 hari lebih singkat.

 

Arus laut di kawasan selat ikut berkontribusi pada tingginya hasil panen. Agar tanaman terjaga dari limpasan arus, sekaligus dari gangguan kotoran limbah maupun hama, rumput laut dibudidayakan di dalam kantong-kantong berbahan jaring. Rumput laut yang dihasilkan pun lebih sehat dengan rendemen karagenan (getah gel) rumput 50% lebih tinggi dari cara budidaya biasa.

Terobosoan teknologi budidaya tersebut hanyalah satu dari ratusan inovasi teknologi yang dikembangkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) tahun ini. Penjelasan itu disampaikan Kepala Balitbang KP, Achmad Poernomo kepada Majalah Sains Indonesia, usai membuka Forum Inovasi Teknologi Akuakultur (FITA) di Bogor, pertengahan Juni 2015.

Balitbang KP saat ini lebih gencar mendorong terobosan-terobosan baru untuk perikanan budidaya (akuakultur), terutama budidaya laut atau marikultur. Menurut pria yang biasa disapa Ipung ini, pengembangan akuakultur sangat strategis karena menjadi tulang punggung sekaligus masa depan poros maritim. Hasil-hasil kajian Balitbang KP akan mem-back up sepenuhnya pengembangan akua-kultur dan industri hilirnya.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 43

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia