Menjawab Keraguan Stok Ikan Indonesia

Created on Tuesday, 28 April 2015
Puluhan pakar perikanan dihimpun untuk menyurvei dan mengkaji jumlah ikan yang tersebar di 11 wilayah pengelolaan perikanan (WPP) secara serentak.

 

Data stok ikan yang dihimpun Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kelautan dan Perikanan (KP) selama lima tahun terakhir ini diragukan keakuratannya oleh sejumlah pihak. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Prof Dr Indroyono Soesilo menilai, data tersebut kurang valid lantaran belum mencerminkan stok ikan berdasarkan kajian ilmiah yang representatif.

Dengan alokasi dana survei yang tergolong minim dalam lima tahun terakhir ini, ia masih meragukan akurasi data tersebut. Keterbatasan anggaran mengakibatkan banyak WPP tidak disurvei secara holistik dan menyeluruh. 

“Keakurasian data sangat penting sebagai dasar pengambil kebijakan. Data yang tak akurat akan menyulitkan Menteri Kelautan dan Perikanan dalam mengambil keputusan secara bijaksana,” tutur Indroyono yang pernah menjabat sebagai Kepala Balitbang KP.

Pendapat senada juga dilontarkan Ahli Statistika dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Menoftaria Boer. Kepada Majalah Sains Indonesia, ia menceritakan pengalaman beberapa tahun lalu. Saat itu terjadi adu argumentasi yang sengit antara tim riset FPIK IPB dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). 

Menurut Boer, perdebatan dipicu oleh permintaan oknum pemerintah agar dibuat kesepakatan mengenai jumlah stok ikan dan potensi lestarinya. “Padahal tim riset IPB sudah berhari-hari bekerja menghitung stok ikan berdasarkan metodologi standar. Karena kepentingan pihak tertentu, akhirnya data stok ikan yang diumumkan ke publik tidak sesuai kajian atau tidak akurat,” katanya.

Menjawab Keraguan

Menghadapi keraguan tersebut, Balitbang KP menggelar Program Kajian Stok Nasional 2015. Program ini melakukan kajian stok (stock assesment) di seluruh laut Indonesia yang terdiri dari 11 WPP. 

Tim ahli dari Indonesia berasal dari lembaga riset dan universitas, Di antaranya pakar di Balitbang KP, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), IPB, Universitas Brawijaya (Malang), Universitas Pattimura (Maluku), dan Universitas Sumatra Utara (Medan).  

“Selain dari Indonesia, tim juga diperkuat pakar dari Thailand dan Filipina. Mereka akan menyurvei selama 260 hari layar,” kata Kepala Balitbang KP, Dr Achmad Poernomo kepada Majalah Sains Indonesia baru-baru ini.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 41

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia