Ujung Tombak Industri Penerbangan Nasional

Created on Wednesday, 08 March 2017
Kementerian Perindustrian telah mengusulkan pesawat R80 sebagai proyek strategis nasional 2017. Hal ini diapresiasi oleh mantan Presiden BJ Habibie yang optimistis pesawat R80 akan menjadi ujung tombak industri penerbangan Indonesia

 

Pesawat rancangan Habibie itu akan di-kerjakan PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan komersiil yang didirikan BJ Habibie bersama putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie. Sektor penerbangan merupakan industri strategis yang terus dibutuhkan setiap negara, termasuk Indonesia.

“Oh ya bagus (pengembangan pesawat R80). Kita harus membuat pesawat terbang itu. Untuk pesawat regional, terjadi pergeseran kebutuhan pasar dari jet ke turboprop untuk jarak pendek,” kata Habibie, di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (13/2).

Data RAI menunjukkan dalam rentang tahun 2013-2032, diperkirakan 3.266 pesawat turboprop akan dibutuhkan dunia. Dari jumlah tersebut, 2.862 di antaranya merupakan pesawat berkapasitas 60-120 penumpang. R80 merupakan pesawat komersial berbasis baling-baling (turboprop) hasil pengembangan dari pesawat N250. 

Wakil pimpinan PT RAI, Ilham Akbar Habibie menegaskan saat ini proyek R80 berjalan baik. “R80 mendapat respons sangat baik. Sudah ada beberapa perusahaan maskapai dalam negeri yang memesan R80. Total ada 145 buah. Dari Sriwijaya 100 buah, Trigana 25 pesawat, dan Kalstar 20 unit,” papar Ilham.

Ilham menegaskan sebelum mendapatkan sertifikat, R80 tidak boleh diproduksi masal. “Paling satu atau dua untuk uji terbang sebagai prototipe. Kemudian perlu waktu dua tahun sampai bisa menyelesaikan sertifikasi, sesuai dengan peraturan nasional. Selanjutnya kami akan mencari sertifikasi internasional, agar R80 bisa dipasarkan ke luar negeri,” kata Ilham.

Berbagai Keunggulan

R80 yang akan diterbangkan perdana pada 2020 di Bandara Kertajati Majalengka, Jawa Barat ini memiliki berbagai keunggulan. R80 memiliki kapasitas lebih besar dibanding N250. Jika N250 hanya berkapasitas 50-60 kursi, R80 memiliki kapasitas 80-90 kursi. R80 dinilai lebih ekonomis.

“Saya lihat biaya pengoperasian pesawat itu 30-50 persennya terkait bahan bakar, jadi mesin sangat menentukan. Kemajuan lain pesawat R80 ini di aerodinamika, kenyamanan kabin, dan material lebih maju. Yang paling penting, lebih hemat 10-15 persen dibanding pesawat ATR,” ujar Ilham.

BJ Habibie menjelaskan jika R80 dapat dikendalikan secara elektronik (fly by wire). R80 juga memiliki perbandingan antara angin dingin dihasilkan dari udara di badan pesawat dan angin yang dikeluarkan pada engine di belakang pesawat lebih tinggi (bypass ratio).
“Airbus atau Boeing itu bypass rationya 12, sedangkan ini (R80) bypass rationya 40. Makin tinggi bypass ratio makin sedikit konsumsi bahan bakar dan lebih cepat,” ujar Habibie.

Menurut Habibie, baling-baling yang ada di sayap juga termasuk teknologi baru, karena dapat menentukan antara angin dingin dan panas yang dihasilkan dari mesin. Dengan teknologi ini pesawat dapat melaju dengan kecepatan tinggi.

R80 didesain untuk penerbangan rute pendek dengan jarak tempuh kurang dari 600 km serta mampu diakomodasi oleh bandara dengan landasan pendek. Karena itu, R80 dinilai banyak pihak sangat cocok digunakan di Indonesia, khususnya untuk menghubungkan pulau-pulau terpencil. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 63

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia