Satelit Telkom 3S Perluas Akses Informasi

Created on Wednesday, 08 March 2017
Gelegar dahsyat terdengar dari roket Ariane 5 yang bergerak menembus langit. 14 Februari lalu, satelit Telkom 3S meluncur menuju orbitnya. Satelit komunikasi ini diklaim mampu mengurangi kesenjangan akses informasi di seluruh wilayah Indonesia.

 

Satelit tersebut diluncurkan dari Guiana Space Center pukul 18.39 waktu setempat. Teknologi ini akan mengawal Indonesia pada posisi 118 derajat Bujur Timur di ketinggian 35.755 di atas Selat Makassar. Jangkauannya meliputi seluruh Indonesia, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Timur. Sehingga Telkom 3S melengkapi dua satelit milik Telkom sebelumnya yang masih beroperasi, yaitu Telkom-1 dan Telkom-2.

“Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berkat doa dan dukungan segenap rakyat Indonesia, satelit Telkom 3S telah berhasil diluncurkan. Keberhasilan ini turut menandai 40 tahun lebih kiprah PT Telkom Indonesia (Telkom) dalam bisnis dan pengoperasian satelit telekomunikasi untuk Indonesia,” ujar Direktur Utama Telkom, Alex J Sinaga, saat memantau proses peluncuran di Guiana Space Center, Kourou, French Guiana (14/2).

Telkom 3S merupakan satelit komunikasi geostasioner yang ditempatkan di atas equator. Ia bergerak mengelilingi Bumi dengan lintasan berbentuk lingkaran dan memiliki sumbu rotasi sama dengan Bumi. Satelit ini dirakit oleh Thales Alenia Space, perusahaan Prancis yang telah berkiprah lebih dari 40 tahun di bidang manufaktur teknologi luar angkasa. “Jumlah investasinya (yang dikeluarkan Telkom) mencapai USD 215 juta, mencakup biaya pembuatan satelit, jasa peluncuran dan asuransi,” ujar Alex.

Alex berharap keberadaan Telkom 3S dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap satelit asing. Indonesia pun akan lebih mandiri karena kebutuhan satelit bisa di-supply dari dalam negeri. “Selain untuk mengurangi kemandirian, Telkom 3S juga dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan akses informasi di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Terpencil),” papar Alex.

Alex memaparkan, bahwa dengan keadaan geografis yang unik, Indonesia sulit dijangkau oleh sistem komunikasi terrestrial dan serat optik. Atas pertimbangan tersebut, sistem komunikasi satelit pun dipilih sebagai alternatif serta solusi untuk menjangkau seluruh area di Tanah Air. Pertimbangan lainnya juga karena kebutuhan transponder di Asia Tenggara yang kian meningkat, mencapai 3,5 % per tahun. Di sisi lain, kebutuhan transponder nasional jumlahnya mencapai 300, sementara saat ini baru ada 132 buah.

Selain menawarkan coverage yang lebih baik, Telkom 3S juga melengkapi kemampuan layanan satelit bagi pelanggan di Indonesia karena merupakan satelit pertama milik Telkom yang dilengkapi dengan transponder Ku-band. Satelit sebelumnya, Telkom-1 hanya memiliki transponder C-band, sedangkan Telkom-2 menggunakan transponder C-band dan extended C-band. 

Pita frekuensi C-Band ini cocok dimanfaatkan untuk aplikasi yang membutuhkan kecepatan data tinggi, seperti mesin ATM. Sementara itu, pita frekuensi Ku-Band bisa dipakai untuk kebutuhan siaran televisi, telepon, dan komunikasi bisnis. Dengan transponder Ku-Band, Telkom kini memiliki layanan satelit dengan bit rate tinggi untuk sistem komunikasi yang lebih berkualitas.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 63

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia