Pesawat N245 Tingkatkan Konektivitas

Created on Monday, 30 January 2017
Sukses merancang pesawat N219, Lapan juga berhasil mendesain pesawat N245 dengan kapasitas 50 penumpang. Pesawat ini sudah diperkenalkan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di situs resminya dan diharapkan bisa meningkatkan konektivitas 295 bandara di Indonesia.

 

Pesawat N245 merupakan hasil pengembangan lebih lanjut dari pesawat CN235 untuk menampung 50 penumpang. Bedanya, N245 100 persen didesain dan dibuatoleh anak bangsa. Sedangkan CN235 adalah hasil kerja sama Indonesia dengan CASA (sekarang menjadi Airbus Defence and Space). Dengan kapasitas tersebut, N245 dinilai para pengamat dan analis penerbangansangat ideal untuk penerbangan komersial, khususnya sebagai transportasi pengumpan maupun penghubung antara bandara-bandara kecil.

Dalam situs resminya, PT DI menjelaskan, N245 dikembangkan sebagai solusi untuk sektor penerbangan Indonesia. Pertama, pesawat ini bisa memenuhi kebutuh-an transportasi udara yang melayani penerbangan jarak pendek (100-300 nm). Kedua, karena sifatnya sebagai pesawat spoke to spoke flight (penghubung antara bandara-bandara kecil) dan hub to spoke flight (pengumpan untuk bandara besar), maka kehadiran N245 secara langsung akan membuka dan meningkatkan perekonomian di daerah.

Ketiga, N245 juga dirancang agar bisa digunakan untuk beberapa penerbangan singkat (multi short-hop flight) tanpa perlu pengisian ulang bahan bakar. Selain itu, pesawat penerus dari CN235 ini juga cocok untuk melayani penerbangan ke negara-negara tetangga. Terakhir, pesawat N245 juga dapat digunakan bagi penerbangan carter (sewa), baik untuk kebutuhan sektor bisnis, swasta, pariwisata, hingga acara kenegaraan untuk misi-misi khusus.

Karena dikembangkan sesuai kebutuhan Indonesia, pemerintah optimistis pesawat N245 yang dikembangkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) ini dapat diterima pasar sekaligus bersaing dengan pesawat sejenis di kelasnya, yaitu ATR42-600 dan Dash8-Q300. Apalagi market pesawat komesial domestik masih membutuhkan banyak pesawat dengan kapasitas 45-50 penumpang. 

“Market share pesawat di Indonesia, dalam kurun waktu lima tahun mencapai 200 unit, sedangkan PT DI hanya mampu memproduksi 24 unit pesawat per tahun. Artinya, dari potensi pasar pesawat itu, yang mampu dipenuhi PT DI hanya 120 unit selama lima tahun. Maka pesawat komersial dengan jarak tempuh pendek ini sangat potensial,” ujar Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 62

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia