Menepis Teori Penganut Bumi Datar

Created on Monday, 30 January 2017
Pandangan bahwa Bumi datar kembali ramai diperbincangkan. Pembahasan tentang teori yang lama berkembang ratusan tahun lalu itu kini bangkit kembali, menjadi kontroversi terpanas sepanjang 2016. 

 

Penganut teori Bumi datar (flat earth) ini cukup banyak di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan, ada sebuah grup Facebook yang bernama Indonesian Flat Earth Society yang mempunyai jumlah anggota 20.327 orang. Sedangkan di negara-negara maju, komunitas penganut flat earth juga berkembang, seperti The Flat Earth Society di Inggris yang diikuti sebanyak 49.811 orang.

Menanggapi dinamika pseudo-sains (ilmu semu) yang kian marak berkembang, akhir tahun lalu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menggelar diskusi bersama penganut teori yang mengalami jatuh bangun selama ratusan tahun ini. Dalam diskusi tersebut, Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, membeberkan jawaban-jawaban yang selama ini diyakini oleh penganut Bumi datar.

Salah satu teori yang mereka tanyakan adalah tentang keberadaan kubah langit (dome). Menurut mereka, roket dan pesawat ulang alik akan selalu terbang dalam bentuk kurva. Keduanya tidak terbang tegak lurus ke atas karena tidak dapat menembus dome dan akan meledak ketika menabrak kubah langit. 

Kepala Lapan menjawab bahwa pengamat melihat roket dan pesawat ulang alik terbang melengkung karena efek gravitasi Bumi, sehingga lintasannya berbentuk parabola. “Karena langit tidak ada batasnya, maka roket dapat menembusnya untuk menempatkan satelit di orbitnya. Hal yang sama juga akan terjadi jika kita melempar batu. Batu akan bergerak vertikal dengan lintasan parabola sebelum akhirnya jatuh karena gravitasi. Kalau dilempar dengan kekuatan yang besar, dengan roket atau pesawat ulang alik, lintasan parabolanya mencapai ketinggian sampai sekitar 400 – 600 km,” papar Djamaluddin.

Selain itu, ada pula penganut Bumi  datar yang menanyakan nasib satelit setelah diluncurkan, apakah tidak pernah menabrak kubah langit? “Satelit diluncurkan sampai ketinggian lebih dari 400 km, misalnya satelit Lapan-A2, itu diorbitkan pada ketinggian 650 km. Dan tidak ada kubah langit,” tegas Djamaluddin.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 62

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia