Malis Jadikan Robot Selentur Manusia

Created on Monday, 03 October 2016

Sebuah video menunjukkan simulasi kegiatan robot yang lentur bahkan gerakan jari-jarinya yang nyaris sempurna selentur jari-jari manusia. Robot tersebut berbeda dengan robot pada umumnya yang kaku dan gerakannya patah-patah. Dalam simulasi itu, si lentur mampu mengerjakan beragam pekerjaan yang sulit dilakukan robot biasa.

 

Simulasi itu ditampilkan tim mahasiswa Program Studi Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas ke-29 di Kampus IPB Darmaga, Bogor Agustus lalu. Lima mahasiswa, yaitu Febrilian Dwi L, Arjun Prayoga Aji, Tanty Dwi Purwita, Yeti Rafitasari, serta Harry Miyosi S yang mengembangkan otot buatan yang bisa membuat pergerakkan robot selentur manusia. Robot besutan mereka bisa melakukan apa yang dapat dilakukan jari manusia, seperti meremas, menggunting, mencubit, menjimpit, dan sebagainya.

Apa yang membuat gerak robot bisa selentur itu? Rahasianya ada pada otot buatan yang mereka kembangkan. Mereka menamainya Malis, singkatan dari magnet elastis. Berbekal metode doping bahan basis, Febrilian mengembangkan otot buatan berbahan karet yang memiliki sifat magnetik.

Dari hasil penelitian menunjukkan magnet elastik yang dikembangkan sebagai alternatif otot buatan memiliki ketahanan dan kemampuan yang maksimum. Dari hasil tersebut, lanjut Febrilian, bahan karet yang paling berpotensi untuk menjadi bahan otot buatan adalah jenis bahan gasket.

Bahan tersebut kemudian diuji kemampuan lengkungan dan simpangannya ketika diberi medan magnet tertentu. Setelah itu diuji ketahanannya terhadap beban yang dikenakan.

“Aktuator dari magnet elastik ini dapat menghasilkan pergerakan yang berkelanjutan serta memiliki kepresisian dan keakuratan yang tinggi,” bebernya.

Dosen FMIPA UGM, Fahrudin Nugroho menjelaskan, selama ini agar robot bisa bergerak elastis, digunakan otot buatan yang terbuat dari liquid crystal elastomer. Penemuan material lunak elastis tersebut merupakan bagian dari pengembangan teknologi berbasis human engineering dan keselarasan antara mesin dan manusia.

“Hanya untuk mendapatkan bahan sintesis tersebut cukup sulit dan harganya juga mahal,” tutur Fahrudin. Sedangkan sistem gerak robot selama ini menggunakan sistem atau aktuator berbasis motor listrik. Hanya saja penggunaan aktuator berbasis motor listrik ini memiliki keterbatasan ukuran dan bentuk, transmisinya pun kompleks, gerakannya terbatas dan tidak bisa terkontrol secara akurat.

“Kekurangan lainnya, aktuator biasanya terbuat dari elemen keras sehingga berat dan menimbulkan suara bising,”jelasnya.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 58

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia