Krim dari Limbah Ikan Sembuhkan Luka Diabetes

Created on Thursday, 31 December 2015
Pertanyaan demi pertanyaan dari dewan juri, mereka jawab dengan tenang. Final lomba Inovasi Iptek Pemuda Nasional 2015 menjadi momen tak terlupakan Kaisar Akhir dan Wekson Bagariang. Dua mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) itu dinyatakan sebagai jawara terbaik.

 

Penelitian kedua mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perikanan itu memberi harapan baru bagi jutaan penderita diabetes di Indonesia. Perkumpulan Endokrinologi (PERKENI) memperkirkan pada tahun 2015 tercatat 9,1 juta penderita diabetes di Indonesia.

“Indonesia menduduki posisi kelima terbanyak penderita diabetes di dunia,” ujar Ketua Perkeni, Achmad Rudijanto. Keduanya menemukan formula baru yang ampuh menyembuhkan luka diabetes. Luka yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi penderita diabetes. Jika terlambat dita-ngani maka bagian tubuh yang terluka pun terancam diamputasi.

Menurut ahli kedokteran FKUI Prof Dr Pradana Soewondo, penderita diabetes me-llitus memang rawan mengalami komplikasi ulkus diabetikum, yaitu kondisi medis yang ditandai dengan luka cekung yang lama dan sulit sembuh. Kondisi ini merupakan komplikasi kronik dari diabetes mellitus sebagai sebab utama morbiditas (rasa sakit), mortalitas (kematian), serta kecacatan penderita diabetes. 

Penyebab utama salah satunya adalah karena diabetes yang tidak terkontrol dan luka yang tidak dirawat dengan rutin dengan cara yang benar. Faktor utama yang berperan pada timbulnya ulkus diabetikum adalah angiopati (kelainan pembuluh darah), neuropati (gangguan sensitifitas jaringan syaraf) dan infeksi. 

Limbah Perikanan

Uniknya, Kaisar dan Wekson meracik formula ampuh itu dari limbah perikanan. Mereka mengekstrak zat kitosan dari pen (tinta) cumi dan kolagen dari kulit ikan. Kitosan dan kolagen diolah menjadi krim penyembuh luka diabates. Selain ramah lingkungan, obat yang diberi label diabetrin itu dijamin halal. 

Temuan ini, bukan hanya bermanfaat secara lingkungan dengan memanfaatkan limbah perikanan. Namun juga memberi harapan baru bagi obat-obatan yang halal. Selama ini sumber kolagen berasal dari tulang babi. Dengan temuan ini, zat yang bisa menjadi bahan baku obat maupun kosmetik tersebut bisa didapat dari sumber yang halal.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 49

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia