Jejak Bung Karno di Masjid Biru Saint Petersburg, Russia

Created on Friday, 29 November 2013

Masjid Saint Petersburg mulai digunakan pertama kali di tahun 1913, menandai peringatan 300 tahun berkuasanya keluarga Romanov di Rusia, meskipun kala itu pembangunan masjid belum selesai seratus persen. 

 

Oleh: Indroyono Soesilo '

Konon, di suatu hari, tahun 1956, sebuah iring-iringan mobil tamu negara  Pemerintah Uni Sovyet bergerak menyusuri tengah Kota Leningrad, berbelok melintasi Jembatan Triniti yang membelah sungai Neva dan melewati Benteng Saint Peter dan Paul.  Mendadak, pandangan aang tamu negara, yang tiada lain adalah Presiden RI, Ir  Soekarno, tertuju pada sebuah bangunan berwarna biru dengan kubah mencolok.  

“Itu bangunan apa? Seperti Masjid?” begitu pertanyaan sang Presiden kepada pengemudinya.  Pengemudi mobil menjawab memang itu bangunan masjid, namun sudah tidak digunakan.  Presiden Soekarno terpana dan meminta agar sopir segera berbalik arah menuju ke bangunan masjid tadi, namun sang sopir Rusia tadi menolak karena takut mendapat sanksi dari pasukan pengawal Presiden.  

Sejak rezim komunis berkuasa pada tahun 1917, maka rumah-rumah ibadah, baik gereja maupun masjid tidak difungsikan, pintu-pintu keagamaanpun ditutup rapat.  Sejak tahun 1940, masjid biru tadi beralih fungsi menjadi gudang medis tentara komunis.

Seusai kunjungan ke Kota Leningrad, Presiden Soekarno yang didampingi putri kecilnya, Megawati Soekarnoputri, terbang ke Moskow, ibukota Uni Sovyet dan disambut Premier Nikita Kruschev.

“Bagaimana kunjungan Yang Mulia Presiden ke Leningrad? Apakah menyenangkan...?  Begitu sapa Premier Kruschev membuka pembicaraan dengan Presiden Soekarno. Presiden RI ini menjawab ”Rasanya saya belum pernah ke Leningrad”.  Premier Kruschev  terkaget dan menjawab ”Bukankah Yang Mulia Presiden berada dua hari di Leningrad?”Bung Karno langsung menjawab ”Betul, tapi saya sangat sedih karena ada masjid bagus di Leningrad yang tidak difungsikan”.

Petinggi Uni Sovyet sangat menghormati Presiden Soekarno sebagai Pemimpin Revolusi Indonesia dan pada tahun 1955 menjadi Pemimpin Asia-Afrika yang sukses menggelar Konperensi Asia-Afrika dan membuahkan Deklarasi Bandung bagi kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika, terutama bangsa Afrika.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 24

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia