Penanggulangan Bencana: Dari Paradigma Responsif Menjadi Prefentif

Created on Thursday, 11 January 2018
 

 

Pertama kali dalam sejarah, dua badai tropis menyapa Indonesia. Badai atau siklon tropis Cempaka, kemudian disusul siklon tropis Dahlia pada awal Desember, mengakibatkan bangunan dan infrastruktur di sejumlah wilayah porak poranda. 
Badai tropis Cempaka dan Dahlia seakan mengingatkan bangsa ini. Berulang kali mengalami bencana, terutama banjir dan longsor saat musim hujan tiba, sudah lebih baikkah kesiapsiagaan? Bagaimana pula dengan bencana yang tiba-tiba terjadi, yang tidak bisa diprediksi? Seperti gempa bumi dan tsunami.  

Bulan Pengurangan Risiko Bencana (BPRB) 2017 diselenggarakan di Sorong, 22 - 25 Oktober. Hanya beberapa hari setelah UN-ESCAP menyelenggarakan Disaster Resilience Week atau Minggu Ketahanan Bencana (MKB) di Bangkok, 9 - 13 Oktober. Juga, menjelang peringatan Hari Kewaspadaan Tsunami Dunia, pada 5 November, serta penyelenggaraan Konferensi antar Pihak (Conference of Parties/COP) tentang perubahan iklim, mulai 6 November di Bonn, Jerman. 

Dalam sambutannya, saat pembukaan Bulan PRB 2017, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggarisbawahi perlunya perubahan paradigma dalam menanggulangi bencana. Dari responsif menjadi preventif, dan lebih memprioritaskan upaya pengurangan risiko bencana. 

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 73 Januari 2018

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia