Kebijakan Donald Trump Memicu Konflik, Menodai Yerusalem

Created on Thursday, 11 January 2018
Gara-gara ucapan Donald Trump, Palestina marah. Bentrok fisik dan kekerasan kembali bergolak di sana. Sejumlah pemimpin mengecam keras kebijakan Pemerintah AS. Dunia pun memanas. Muncul kekhawatiran, bara Yerusalem akan menyulut peperangan besar.

 

Menjelang akhir pekan pertama Desember 2017, Presiden AS Donald Trump membuat kejutan. ‘’Ini sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel,’’ ungkap Donald Trump di Washington DC (6/12).

Melalui konferensi pers di Gedung Putih, Trump menegaskan: “ Israel memiliki hak untuk menentukan ibu kotanya. Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi peme-rintah modern Israel, rumah bagi parlemen Israel, Knesset, rumah bagi Mahkamah Agung.”

Selain mendeklarasikan pengakuan Yesusalem sebagai Ibukota baru Israel. Presiden eksentrik itu juga memerintahkan jajaran Kementerian Luar Negeri AS untuk segera memindahkan markas kedubesnya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Kado 70 Tahun Israel

Israel dan sekutunya, tentu saja, menyambut deklarasi itu dengan sukacita. Presiden Israel, Reuven Rivlin, menyebut itu sebagai kado terindah menjelang 70 tahun berdirinya negara Israel. “Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan relokasi semua kedutaan ke kota itu, merupakan tanda pengakuan hak orang-orang Yahudi” ujarnya.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan, keputusan itu  bersejarah bagi negaranya. Menurutnya, Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel selama hampir 70 tahun.

“Yerusalem menjadi fokus dari harapan, impian, dan doa kami selama 3.000 tahun. Yerusalem telah menjadi ibu kota orang-orang Yahudi selama 3.000 tahun,” katanya seperti dikutip Kompas.com.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 73 Januari 2018

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia