Fosfat Alam Tingkatkan Produktivitas Jagung

Created on Friday, 12 January 2018
Hasil riset Balai Penelitian Tanah (Battanah), Badan Litbang Pertanian menunjukkan, fosfat alam terbukti jitu meningkatkan produksi jagung sebesar 30% dan menghemat biaya 25 %. 

 

Teknologi pengelolaan hara tak kalah vital bagi upaya swasembada jagung, disamping ketersediaan lahan. Fosfor (P) merupakan unsur hara makro yang sangat dibutuhkan tanaman, terutama tanaman pangan. Selama ini, sumber hara P umumnya diperoleh dari pupuk dengan kelarutan P tinggi, seperti SP-36 dan TSP. Dari sisi harga, eceran tertinggi SP-36 subsidi berkisar Rp 2.000/kg, sementara harga nonsubsidi tentu lebih mahal.

Di sisi lain, mayoritas petani juga masih memilih menggunakan SP-36 dan TSP untuk mendapatkan P2O5 (difosforus pentaoksida) yang berguna bagi pertumbuhan tanaman di lahan kering masam. Balittanah Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) lantas mencoba mengubah paradigma ini dengan mengambil unsur penting tersebut langsung dari sumbernya, yaitu fosfat alam (batuan fosfat).

Upaya substitusi pupuk pabrikan ini sudah dilakukan di Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah, Kabupaten Lampung Timur untuk komoditas jagung. Hasilnya sangat menggembirakan. Sekali pemberian fosfat alam, selama lima musim tanam selanjutnya, tanaman tidak perlu lagi diberi P2O5. Artinya, metode ini cukup efektif dan efisien menekan biaya produksi.

“Batuan fosfat ini bisa mengoptimalkan lahan kering masam,” ujar Peneliti Balittanah, Adha Fatmah Siregar kepada Majalah Sains Indonesia saat kegiatan Temu Lapang Peningkatan Produktivitas Jagung Melalui Aplikasi Langsung Fosfat Alam Reaktif Morocco pada Lahan Kering Masam di Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah, Kabupaten Lampung Timur (11/12).

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 73 Januari 2018

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia