Lingkungan Memburuk, Indonesia Semakin Rawan Bencana

Created on Friday, 29 November 2013
Bencana banjir terjadi di mana-mana. Satwa  merana, karena hutan berubah menjadi kolam bekas tambang dan kebun sawit. Sungai-sungai tampak kotor dipenuhi sampah dan menjadi muara limbah industri.

 

 

Bagian dari tayangan film dokumenter berdurasi kurang dari 10 menit itu menggambarkan betapa memprihatinkannya kondisi lingkungan di Indonesia. Selama film ditayangkan, rona serius tampak di wajah semua yang hadir dalam diskusi media di Jakarta, yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tersebut. Wah! Seruan ini terlontar dari beberapa peserta, ketika di akhir tayangan Deputi Bidang Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Imam Hendargo mengatakan, dengan kondisi seperti dalam film tersebut, saat ini tidak ada satu pun wilayah di Indonesia yang tidak mengalami rawan bencana.

Ancaman perusakan lingkungan, tambah Imam, semakin beragam seiring meningkatnya populasi manusia dan kegiatan pembangunan. Melihat gejala seperti bencana banjir dan tanah longsor yang semakin sering terjadi, menunjukkan bahwa daya dukung lingkungan sudah terlampaui dan berada dalam fase kritis.  

Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengatakan menurunnya kualitas lingkungan berkaitan erat dengan perilaku manusia. Semua program lingkungan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga ke berbagai pelosok Tanah Air, termasuk program kerja sama dengan lembaga asing, misalnya untuk pengelolaan hutan di beberapa taman nasional, konservasi terumbu karang, dan pelestarian habitat satwa langka tidak akan bisa menahan laju kehancuran lingkungan.

“Jika kita tidak menyadari dan tidak bertindak untuk mengubah perilaku-perilaku yang merusak lingkungan maka kehancuran lingkungan akan makin parah. Padahal, banyak yang bisa kita lakukan dengan sangat sederhana untuk menjaga kelestarian lingkungan. Kegiatan tersebut, antara lain tidak membuang sampah ke sungai atau tidak menebang pohon kalau kita tidak bisa menanam gantinya,” kata Balthasar. 

Menurut Imam, potret kerusakan lingkungan di Indonesia seperti dalam film tersebut telah berulangkali ditayangkan di berbagai forum nasional maupun internasional yang bertema lingkungan. Tujuannya, untuk menggugah dan mengajak semua pihak agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan.

“Bahwa seperti ini lho kondisi lingkungan kita. Kalau bukan kita yang membenahi, siapa lagi? Beberapa tahap sudah dilakukan KLH untuk lebih serius mengajak semua pihak seperti kementerian lain, pemerintah daerah, dan kalangan industri agar menerapkan prinsip pengelolaan lingkungan yang baik dalam setiap kebijakan. KLH menyodorkan data dan fakta tentang status lingkungan, inilah yang semestinya digunakan sebagai acuan dalam rencana pembangunan baik jangka menengah maupun jangka panjang,” kata Imam. 

 

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 24

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia