Menyelamatkan Tumbuhan Lokal dari Kepunahan

Created on Thursday, 11 January 2018
Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki taman keanekaragaman hayati. Kawasan inilah, benteng terakhir untuk menyelamatkan tumbuhan lokal dari kepunahan. 

 

Sudah tak terhitung jumlah tanaman lokal di Nusantara yang kini punah. Apalagi, tumbuhan endemik yang habitatnya berada di luar kawasan hutan. Gencarnya pembangunan, telah menggusur lahan-lahan yang semula merupakan habitat flora dan fauna lokal tersebut.

“Seperti durian parung, yang dulu amat terkenal. Kini sudah punah. Padahal dulu bukan hanya di kebun, warga Ciampea, Bogor, juga menanam pohon durian ini di pekarangan rumah. Namun, karena dianggap sudah tidak bisa lagi berbuah banyak, mereka pun menebangnya, dan tidak berupaya menanam pohon durian baru. Lambat laun, tak ada satu pun pohon durian yang tersisa di sana,” kata Direktur Bina Ekosistem Esensial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Antung Dedy, kepada Majalah Sains Indonesia. 

Menurut Antung, selain tidak adanya upaya pemeliharaan, laju kepunahan tumbuhan lokal juga disebabkan oleh makin tingginya alih fungsi lahan. Habitat tumbuhan lokal, apalagi yang berada di luar kawasan hutan, dianggap tidak perlu dilestarikan. Lahan-lahan ini, terutama yang lokasinya tak jauh dari perkotaan, sangat cepat mengalami alih fungsi. Menjadi kawasan permukiman, pembangunan jalan, maupun area bisnis. Sementara, habitat tumbuhan lokal di sekitar hutan, yang dianggap lebih “aman” karena tidak ada aturan yang melarang alih fungsi di lahan tersebut, akhirnya dialihfungsikan untuk perluasan perkebunan maupun membuka sawah. Karena lahan-lahan tersebut masih subur. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 73 Januari 2018

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia