Investor Kakap Membidik Sektor Pangan

Created on Thursday, 08 February 2018
Indonesia mesti berbenah agar nantinya tidak menjadi pasar semata akibat serbuan pangan impor. Masuknya investor kakap global di sektor ini harus diantisipasi dengan mengubah ancaman menjadi peluang.

 

Sejak 2015, Jack Ma melalui perusahaan e-commerce besutannya, Alibaba, mulai merambah produk pangan segar dari Australia. Alibaba bukan hanya menguasai rantai pemasaran, namun juga sebagai produsen besar produk pangan segar.

Investor kakap asal China ini melihat sektor pertanian sebagai komoditas unggulan yang akan terus tumbuh di masa depan. Dikutip dari Business Insider (27/08/2017), raksasa digital China itu bahkan mengklaim telah mengakses lebih dari setengah miliar pelanggannya.

“Produk-produk segar kini mempresentasikan peluang terbesar untuk pertumbuhan. Kami sudah menjual beberapa produk segar secara daring (online) dan menghapus semua perbedaan yang ada di toko daring dan offline. Semua pesanan secara daring akan dikirim dalam 30 menit,” ujar Alibaba’s Australia and New Zealand Managing Director, Maggie Zhou.

Tidak hanya dari Australia, Alibaba juga mempromosikan produk pangan dari negara lainnya, seperti Chili dan Amerika Serikat (AS). Awal tahun 2017, Jack Ma bahkan meminta izin dari Presiden AS, Donald Trump agar Alibaba diperbolehkan memproduksi buah-buahan di AS, terutama di kawasan Midwest. “Kami fokus tentang usaha kecil, terutama di Midwest. Banyak produk pertanian dan jasa Amerika bisa dijual ke China dan Asia,” ujar Jack Ma kala itu. 

Jeli Melihat Peluang
Indonesia seyogyanya mengantisipasi strategi Jack Ma dan pengusaha besar dunia lainnya agar tidak menjadi pasar semata. Ketua Dewan Riset Nasional (DRN), Bambang Setiadi menyebut sektor pangan akan makin strategis karena kebutuhan pangan dunia terus bertambah besar.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di

Majalah Sains Indonesia Edisi 74 Februari 2018

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia