Budaya dan Inovasi Teknologi Kunci Siaga Bencana

Created on Friday, 12 January 2018
Saat gumpa mengguncang, tanpa aba-aba masyarakat lari ke dataran tinggi. Bersiaga menghindari ancaman tsunami seperti ini sudah menjadi budaya turun temurun di Simeulue, Aceh. 

 

Itulah mengapa, jumlah korban meninggal di Simeulue jauh lebih sedikit dibanding di Banda Aceh dan wilayah lain yang juga dilanda tsunami, 26 Desember 2004 silam. Pulau kecil di Samudra Hindia itu juga tidak porak poranda, meski gelombang dahsyat menerjang karena dipagari tanaman mangrove di sekelilingnya. 

Kultur atau budaya siaga hadapi tsunami di Simeulue, terbukti bisa menyelamatkan mereka dari amukan tsunami. Ketika itu, di Banda Aceh korban meninggal mencapai lebih dari 200 ribu jiwa. Sedangkan, di Simeulue, hanya 10 orang. 

“Setelah bencana gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004 itu, lari menuju pegunungan dan tempat yang lebih tinggi, mulai melekat pada masyarakat di daerah lain yang sering dilanda gempa bumi,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sebuah acara lingkungan hidup di Jakarta, beberapa waktu lalu.  

Menurut Pak JK, panggilan akrab Wapres, meski kultur tersebut bukan satu-satunya di Indonesia, kesigapan (tanggap bencana) masyarakat Simeulue patut diacungi jempol dan dicontoh.  Mereka, otomatis langsung lari ke pegunungan, begitu merasakan gempa bumi. Tidak panik dan bingung mau bawa barang apa saja. Yang penting lari, secepatnya. 

“Nah, coba kalau mereka masih mikir dan sibuk pilih barang yang harus diselamatkan, sudah, malah tidak selamat semuanya. Sebab, tsunami itu datangnya dalam hitungan menit. Jadi, upaya menyelamatkan diri juga harus sangat cepat,” katanya. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 73 Januari 2018

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia