Mengembalikan Kejayaan Sapi Pasundan

Created on Thursday, 25 June 2015
Warnanya cokelat, tubuhnya kekar, berisi, tinggi, dan bobotnya setara sapi unggul impor hasil penggemukkan. Seperti itulah gambaran fisik sapi pasundan yang merupakan sapi asli tatar Sunda.

 

Gambaran itu dituturkan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ahmad Heryawan, mengutip cerita kakeknya. Aher, begitu biasa dia dipanggil, berbicara di hadapan wartawan usai penandatanganan kesepakatan bersama antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan Pemprov Jabar tentang Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Agribisnis Terpadu Berbasis Keanekaragaman Hayati, belum lama ini.

Sapi pasundan atau di sejumlah tempat disebut sapi rancah kini sudah langka di Jabar. Bobotnya pun sudah menyusut hanya sekitar 300 kg. Rekayasa teknologi diyakini mampu mengembalikan sifat-sifat unggul sapi pasundan. Pemerintah Provinsi Jabar pun menggandeng Kemenristekdikti serta sejumlah pihak untuk mengembalikan kejayaan sapi pasundan. 
Langkah tersebut dinilai strategis untuk menjadikan Jabar sebagai salah satu pemasok penting daging sapi nasional. Jika berhasil, maka kontribusinya bagi upaya swasembada daging nasional bakal cukup signifikan.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), M Nasir menjelaskan, Jabar memiliki potensi yang menggiurkan dalam peningkatan daging sapi nasional, karena kondisi wilayahnya yang memungkinkan untuk ternak sapi. “Jabar berpotensi menjadi lumbung daging bagi Indonesia, karena wilayahnya di bagian selatan dikelilingi pegunungan, sehingga tepat untuk dilakukan ternak sapi,” ujar Nasir.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 43 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia