AGRO TECHNO PARK Pusat Alih Teknologi Yang Minim Perhatian

Created on Friday, 10 October 2014

Memasuki kawasan Agro Techno Park di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) kita akan disambut pemandangan yang gersang dan debu beterbangan disapu angin. Maklum saja musim kemarau sedang melanda kawasan milik Kementerian Riset dan Teknologi di lahan seluas 100 hektar itu.

Kering dalam arti lain juga dialami Agro Techno Park Sumsel itu. Sudah hampir satu dekade ini pendanaan untuk beragam kegiatan di kawasan yang diresmikan tahun 2003 itu sangat minim. Padahal dari sisi manfaat, keberadaan Agro Techno Park sebagai pusat percepatan transfer teknologi di sektor pertanian dan pangan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sumsel.

Para pegawai Agro Techno Park maupun masyarakat pengguna manfaat fasilitas ini berharap Joko Widodo (Jokowi) merealisasikan janjinya. Salah satu janji kampanye Presiden terpilih, Jokowi meningkatkan daya saing sumber daya manusia melalui transfer teknologi dan inovasi dengan pengembangan technopark.

Selain meningkatkan peran technopark yang sudah ada, Jokowi juga berjanji akan membangun 100 technopark sebagai pusat pelatihan dan konsultasi, riset dan pusat pengembangan bisnis khususnya pertanian dan energi.

“Dari tiga lokasi Agro Techno Park yang kami miliki, dua beroperasi setiap hari, yakni Agro Techno Park 1 (100 ha) dan Agro Techno Park 3 (30 ha). Setiap tahun kami hanya mendapat alokasi dana Rp 1 milyar – Rp 1,2 milyar per tahun. Sekitar 80% untuk belanja pegawai,” papar Manajer Lapangan Agro Techno Park Sumsel, Munandar.

Gelar Pelatihan

Fasilitas di Agro Techno Park Sumsel saat ini berupa perkebunan, peternakan, dan perikanan yang dibuat untuk para peneliti, mahasiswa dan pelajar dalam melakukan penelitian. Sedangkan untuk transfer teknologi ke masyarakat terutama petani, Agro Techno Park menyelenggarakan berbagai pelatihan dan praktik lapang. 

Menurut Munandar, hasil-hasil riset dan inovasi yang berasal dari lembaga pemerintah non kementerian di bawah Kemenristek, seperti LIPI, Batan, BPPT, dan lain-lain diuji coba dan didiseminasikan ke publik di Agro Techno Park Sumsel. Tak heran banyak pelajar dan mahasiswa bahkan karyawan sejumlah perusahaan swasta dan BUMN yang magang dan belajar di Agro Techno Park  Sumsel. 

Hingga 2013, tercatat lebih dari 700 orang yang sudah magang dan belajar di Agro Techno Park dengan aset sebesar Rp16,9 miliar itu. “Di sini dikembangkan budidaya jagung, hortikultura, singkong, kedelai, ternak sapi, ayam, bebek dan lele,” ujar Munandar.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang, Erizal Sodikin mengatakan, jika dikelola dengan baik dan diberi pendanaan yang cukup untuk membiayai operasionalnya, Agro Techno Park ini bisa menjadi suatu wahana yang bagus bagi perkembangan Iptek, dan pelatihan bagi masyarakat di negeri ini.  

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 34

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia