Stop Buah Impor, Produk Lokal pun Diburu

Created on Friday, 01 March 2013

28.-Pertanian Permentan No 60/2012 menjadi jurus ampuh untuk mensejahterakan petani dan mendorong masyarakat Indonesia mencintai produk hortikultura dalam negeri.

Buah, sayuran, dan bunga impor, kini tidak lagi mudah dijumpai di pasar atau supermarket. Kalau pun ada harganya bisa mencapai dua kali lipatnya. Kelangkaan dan mahalnya harga beberapa produk impor tersebut akibat Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 60/2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH).

Terhitung sejak Januari hingga Juni 2013, sebanyak 13 jenis produk hortikultura tidak direkomendasikan diimpor. Ke-13 produk itu adalah buah (durian, mangga, melon, nanas, pisang, pepaya), sayuran (kentang, kubis, wortel, cabai), dan bunga (krisan, anggrek, dan heliconia). Produk yang masih diperbolehkan diimpor adalah buah (jeruk,  anggur, apel, dan lengkeng), sayuran (kentang varietas atlantik, bawang bombay, bawang merah, dan bawang putih).

“Permentan No 60/2012 ini tidak melarang impor, tetapi hanya mengatur waktu impornya saja. Impor baru akan dilakukan hanya untuk menutupi kekurangan,” kata Dr.  Bambang Sayaka, peneliti dari Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSE-KP), Badan Litbang Pertanian kepada Majalah Sains Indonesia di sela-sela seminar yang diadakan Badan Litbang Pertanian, di Jakarta, baru-baru ini.

Meski larangan impor terhadap 13 produk hortikultura tersebut hanya berlangsung 6 bulan, paling tidak membawa dampak yang luar biasa. “Dampak nyatanya, selain mendorong masyarakat mencintai produk-produk dalam negeri, kesejahteraan petani juga meningkat,” tegas Bambang.

Jika buah-buahan impor yang selama ini membanjiri pasar Indonesia kemudian tidak ditemukan di pasaran, otomatis masyarakat akan beralih ke buah lokal. “Selama ini masyarakat mudah mendapatkan buah impor di pasar, namun ketika yang dicari tidak ada pasti pilihannya jatuh pada buah lokal,” kata Bambang.

Bila buah lokal mulai diminati masyarakat, secara tidak langsung hal tersebut berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Insentif pun akan didapat produsen dan distributor hortikultura lokal.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 15

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia