Teknologi Berbasis GIS Efektif Halau Kebakaran Lahan

Created on Tuesday, 12 December 2017
Sebelum memakai sistem berbasis teknologi GIS, hanya menggunakan data hot spot dan peta lokasi. Sehingga hasilnya tidak maksimal, karena tidak dapat mendeteksi dini munculnya api. Pemantauan dengan tower, juga baru bisa melihat api ketika sudah cukup membesar.

 

Tiga layar monitor menampilkan data dari beberapa satelit pemantau yang sudah diolah dengan sistem berbasis teknologi Geographic Information System (GIS). Data yang disajikan bukan hanya titik panas (hot spot), namun juga informasi cuaca, kelembaban tanah, hingga arah angin. Semua itu disajikan secara real time oleh divisi Fire Management, Sinar Mas Forestry.

Tenaga ahli GIS Sinar Mas Forestry, Asep Karsidi menjelaskan, sebelumnya data hot spot (titik panas) hasil hanya mengandalkan pantauan satelit yang dikirimkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sehingga kadang informasi sebaran hot spot kurang detail. 

Antara data yang terpantau satelit dan fakta di lapang-an seringkali tidak sama. Misalnya saja, informasi dari satelit ada 8 hot spot, namun setelah di cek di lapangan hanya ada 2 - 3 hot spot saja. Dengan sistem monitoring ini, lanjut Asep, informasi yang ditampilkan sangat rinci dengan akurasi tinggi karena ada verifikasi di lapangan. Sinar Mas Forestry mulai menerapkan sistem pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berbasis teknologi GIS tersebut sejak medio tahun lalu.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 72 Desember 2017

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia