Mewaspadai Penyakit Setelah Banjir Surut

Created on Wednesday, 08 March 2017
Saat banjir surut, ada bencana lain mengancam. Kondisi lingkungan yang buruk, karena luapan sungai maupun saluran air di permukiman, berpotensi memunculkan wabah penyakit.

 

Memasuki puncak musim hujan periode 2017, sepanjang bulan Januari dan Februari, sejumlah daerah di Indonesia diguyur hujan deras. Banjir pun melanda. Jakarta dan sekitarnya, yang langganan banjir ketika musim hujan pun tak luput dari bencana ini. 

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek pun mengingatkan masyarakat agar mewaspadai ancam-an penyakit yang diakibatkan oleh banjir. “Meskipun sudah selalu mengingatkan, kali ini kami kembali meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi munculnya wabah penyakit pasca banjr. Yang paling sering ditemukan adalah diare, typhus, leptospirosis dari tikus yang kotorannya menyebar karena air meluap di mana-mana,” kata Nila. 

Setelah banjir surut, menurut Nila, selain membersihkan lingkungan rumah masyarakat sebaiknya juga menghindari kontaminasi kotoran hewan yang mungkin masih tersisa di genangan air di sekitar tempat tinggal. “Karena, kotoran itu yang menjadi media penularan penyakit pada manusia. Sebenarnya, yang terpen-ting adalah, meningkatkan kepedulian kita untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kebiasaan buruk seperti membuang sampah di sungai atau membiarkan saluran air di permukiman tersumbat karena sampah, mestinya kita hentikan,” imbuh Nila. 

Dalam tulisannya di ruang informasi online Sehat Indonesia, dr Iwan Halim mengatakan faktor utama yang memicu terjadinya wabah penyakit yang berhubungan dengan banjir adalah kontaminasi fasilitas air minum (air yang dikonsumsi oleh manusia untuk minum, memasak, mandi dan cuci). Namun, wabah penyakit itu dapat diminimalkan, jika risikonya pun diantisipasi dengan baik, yakni dengan memprioritaskan penyediaan air bersih. Masyarakat sebaiknya hati-hati dalam menggunakan berbagai sumber air tanah, yang kemungkinan terkontaminasi oleh berbagai kotoran.

Selain itu, juga perlu mewaspadai peningkatan risiko penyakit infeksi yang bisa terjadi melalui kontak langsung dengan air tercemar. “Misalnya infeksi kulit, dermatitis (peradangan kulit), dan konjungtivitis (radang mata),” kata Iwan.

Pencegahan

Sementara, infeksi yang berpotensi epidemi dan dapat ditularkan langsung dari air yang terkontaminasi adalah leptospirosis, penyakit yang ditularkan oleh bakteri zoonosis (penyakit yang bersumber dari binatang). Penularan terjadi melalui kontak kulit dan selaput lendir dengan air,tanah basah, vegetasi atau lumpur yang terkontaminasi urin tikus. Banjir setelah hujan deras memfasilitasi penyebaran dan perkembang-an tikus yang memproduksi leptospira dalam urin mereka.

Banjir secara tidak langsung dapat menyebabkan peningkatan jumlah dan berbagai habitat binatang perantara. Genangan air yang disebabkan hujan deras atau luapan air sungai dapat menjadi sarang pembibitan nyamuk, sehingga meningkatkan risiko demam berdarah. Perlu diwaspadai, biasanya saat hujan dan banjir kemungkinan memang menghapus perkembangbiakan nyamuk. Namun, nyamuk akan datang kembali ketika air surut. Biasanya, sekitar 6-8 minggu sebelum wabah atau epidemi (berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu). 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 63

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia