Bila Cuaca Tak Lagi Mendukung

Created on Tuesday, 31 January 2017
Titik api (hot spot) mulai bermunculan di Sumatra, sejak awal Januari 2017. Seluruh Pemda diminta meningkatkan kewaspadaan dan siaga dini, menghalau api agar tak berlanjut jadi bencana asap.

 

Tahun lalu Indonesia berhasil “bebas” dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang biasa-nya diikuti dengan bencana asap. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyebut sebaran hot spot sepanjang 2016 turun hingga 82% dibanding tahun 2015. Bila mengacu pada kejadian puncak, periode Agustus-September, penurunan jumlah hot spot 2016 berkisar 61% dari periode yang sama tahun 2015.       

“Itu semua berkat kerja keras dan sinergi semua pihak, mulai dari petugas di lapangan, pemerintahan di daerah dan pusat, serta lembaga yang secara cepat menyampaikan informasi mengenai potensi bencana. Kami mengapresiasi itu sebagai prestasi. Semoga bisa dipertahankan sehingga 2017 dan tahun-tahun berikutnya Indonesia bisa bebas dari bencana Karhutla dan asap,” kata Siti Nurbaya. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi iklim di Indonesia tahun ini normal. Artinya, ketika musim kemarau akan kering dan mengalami hari tanpa hujan. Sedangkan, tahun lalu, karena fenomena La Nina, berdampak pada kemarau basah, sehingga hujan lebih sering terjadi meskipun saat musim kemarau. 

Februari ini beberapa wilayah rawan Karhutla, yakni Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah sudah masuk musim kemarau periode pertama 2017. Berbeda dengan daerah lain di Indonesia, tiga provinsi tersebut menga-lami dua kali musim kemarau setiap tahun. Pada Februari-Maret kemarau, kemudian musim hujan April-Mei, dan masuk kemarau lagi Juni dan biasanya berlangsung lebih lama, bisa sampai September. 

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus S Swarinoto mengatakan bila kondisi hujan di tahun 2017 normal, maka potensi Karhutla akan lebih tinggi dibanding 2016. “Namun, peluangnya masih rendah jika dibanding 2015. Tahun 2015 (kondisi iklim) kering, karena kemarau panjang akibat El Nino. Sebaliknya, setelah itu, 2016 ada La Nina, yang menyebabkan musim hujan lebih panjang. Di daerah rawan Karhutla pun lebih sering hujan. Setelah La Nina melemah dan berakhir, tahun ini kondisi cuaca dan iklim normal,” kata Yunus kepada Majalah Sains Indonesia.

Selain faktor iklim, menurut Yunus, meningkatnya kesadaran akan pentingnya informasi dini dan  peringatan cuaca, sangat memengaruhi penurunan potensi bencana. Mulai dari level petugas di lapangan hingga pengambil kebijakan di tingkat daerah dan pusat, sudah lebih sigap dan melek informasi. “Sehingga prakiraan cuaca yang kami sampaikan, sudah dianggap sebagai peringatan dini. Dengan demikian, kejadian dan dampak bencana dapat diminimalkan. Kami berharap, seterusnya, semua pihak tetap mewaspadai dan melakukan antisipasi sedini mungkin menghadapi potensi bencana termasuk Karhutla dan asap,” imbuh Yunus. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 62

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia