Ketika Siklon Tropis Menyapa

Created on Tuesday, 17 January 2017
Menjelang awal tahun 2017, wilayah Jakarta dan sekitarnya dilanda angin kencang. Sedangkan, Bima dan beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Barat, diterjang banjir bandang.

 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan ada siklon tropis Yvette, yang muncul di dekat perairan Indonesia. Meski tak berdampak secara langsung, adanya siklon tersebut memengaruhi cuaca di sebagian wilayah Indonesia. Hujan lebat dan angin kencang, bahkan berupa badai, puting beliung, dan tornado, sangat berpeluang terjadi, ketika siklon tropis “menyapa”. Di perairan, siklon tropis akan memicu gelombang besar, dengan ketinggian di atas 4 meter.

“Kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap dampak munculnya siklon tropis. Beberapa wilayah di Indonesia diprakirakan akan mengalami hujan lebat disertai angin kencang dalam beberapa hari, sehingga potensi banjir perlu diwaspadai,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Nurhayati, kepada Majalah Sains Indonesia di Jakarta, Jumat (23/12). 

Dari analisis BMKG, siklon tropis Yvett tumbuh pada 22 Desember 2016 mulai pukul 07.00 WIB.  Posisinya, di Samudra Hindia dengan koordinat 14,4 LS dan 114,4 BT atau sekitar 630 km sebelah selatan Denpasar, Bali. Arah siklon ini bergerak ke tenggara, dengan kecepatan angin mencapai 1 knot atau 3 km/jam dan kekuatan 75 km/jam (40 knot). 

Analisis BMKG pada 23 Desember 2016, memperlihatkan, siklon tropis Yvette berdampak pada cuaca di Indonesia, berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi di wilayah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, juga angin kencang yang cukup ekstrem dan gelombang laut dengan ketinggian antara 2,5 meter hingga lebih dari 4 meter. 

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan banjir bandang yang menerjang Kota Bima, NTB, pada 22 Desember dipicu karena curah hujan tinggi selama dua hari. Ribuan rumah di lima kecamatan terendam, dengan ketinggian air lebih dari satu meter. Menurut Sutopo, dengan mengacu data pantauan cuaca yang disampaikan BMKG, diprakirakan bencana yang melumpuhkan aktivitas warga dan perekonomian di Kota Bima tersebut, merupakan dampak munculnya siklon tropis Yvette. 

“Selain itu, juga dipengaruhi faktor non alam, yakni penggundulan hutan di kawasan hulu, sehingga curah hujan yang tinggi tak mampu ditahan di catchment area (daerah tangkapan air). Kemudian, secara geografis, topografi Kota Bima, berada di daerah cekung. Dengan kejadian banjir bandang di Bima ini, kami kembali mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap dampak cuaca ekstrem. Apalagi, bukan hanya karena munculnya siklon tropis, puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia juga masih akan berlangsung hingga Februari 2017,” kata Sutopo, kepada Majalah Sains Indonesia. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 61

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia