Waspadai Berbagai Dampak Kemarau

Created on Tuesday, 28 July 2015
Tanaman melon Sukirno yang diharapkan berbuah saat Ramadan, justru layu sebelum berkembang. Dia pun menderita sakit tenggorokan akibat banyaknya debu jalanan. Kemarau menimbulkan aneka dampak negataif sehingga masyarakat harus mewas-padainya.

 

Berlipat kesedihan Sukirno, petani Desa Kasongan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta itu. Dia sakit tenggorokan yang parah, lantaran setiap hari harus bergulat dengan debu jalanan. Selain bertani, siang hingga petang, lelaki 47 tahun ini juga bekerja sebagai juru parkir di sebuah toko bahan bangunan di Jalan Raya Bantul.

Dampak musim kemarau, yakni gagal panen akibat kekeringan dan keluhan infeksi saluran pernapasan benar-benar dirasakan Sukirno. Pengalaman tersebut memang sangat mungkin juga dialami petani dan masyarakat umumnya, ketika kemarau tiba. 

Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini  akan berlangsung hingga November. Kemarau yang sudah mulai melanda sejak April, diperkirakan puncaknya pada Agustus. Namun, berdasarkan pengamatan dengan memperhatikan sejumlah indikator, termasuk pengaruh iklim global, BMKG memperkirakan musim kemarau 2015 dalam kategori normal. Kekeringan tidak akan separah tahun-tahun sebelumnya. 

Meski begitu, masyarakat diharapkan tetap mewaspadai dampak-dampak musim kemarau. Seperti, munculnya wabah penyakit yang berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kementerian Kesehatan mengingatkan saat kemarau panjang, kesulitan pasokan air bersih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Masyarakat diminta mewaspadai munculnya penyakit yang berpotensi mewabah di musim kemarau. 

Penyakit Berbahaya

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengatakan, setidaknya ada enam penyakit yang sangat mungkin muncul di musim kemarau. Enam penyakit yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB) itu adalah ISPA, diare, demam berdarah, typhoid atau tifus, keracunan makanan, dan campak. 

Di beberapa wilayah, misalnya di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat (Kalbar) yang lebih rentan mengalami polusi udara akibat pembakaran lahan, ancaman penyakit ISPA diperkirakan akan lebih tinggi. Penyakit berbahaya ini, berpotensi terjadi pada situasi kemarau panjang, karena ketersediaan air sangat terbatas sehingga kandungan partikel debu di udara meningkat. Ditambah lagi, adanya kabut asap dari pembakaran lahan, yang merupakan sumber polusi berbahaya yang memicu kasus ISPA.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 44

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia