Edelweis, Tas Sabut Kelapa Buatan Mahasiswa IPB

Created on Monday, 30 January 2017
Setiap tahun produksi buah kelapa Indonesia mencapai 5,6 juta ton. Dari jumlah itu sebanyak 1,7 juta tonnya berupa sabut kelapa. Meski sudah banyak upaya pemanfaatan sabut dan batok kelapa, namun volumenya masih kecil. Sebagian besar terbuang menjadi limbah.

 

Tergerak untuk memanfaatkan limbah sabut kelapa menjadi barang bernilai tinggi, empat mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan kerajinan tas berbahan serat sabut kelapa. Keempatnya adalah Rizky Maulana, Reza Adiyoga, Moch. Anugrah Dwi Saputra  dan Maulidatuz Zahroo.

Harga sabut kelapa saat ini berkisar antara Rp 100 – 150/butir. Jika digiling menjadi serat atau fiber sabut kelapa, harga meningkat menjadi Rp 2.600 – Rp 3.000/kg. Setiap kilogram serat dihasilkan dari 10 butir sabut kelapa. Dari sinilah aneka kerajinan berbahan sabut kelapa berkembang.

Agar bernilai ekonomi tinggi, Rizky dan kawan-kawan pun menyulapnya menjadi aneka model tas dan binder. Untuk menarik pembeli karya mereka itu pun diberi merk Edelweis yang diambil dari filosofi bunga edelweis yaitu keabadian dan keindahan. 

“Kami ajarkan masyarakat untuk memanfaatkan limbah ini menjadi produk bernilai. Kami juga menyadarkan masyarakat konsumen untuk menggunakan produk dalam negeri yang ramah lingkungan berkualitas. Inilah sumbangsih kami untuk meningkatkan sektor ekonomi kreatif di Indonesia sekaligus kepedulian pelestarian lingkungan,” ujar Rizky.

Sabut dan tempurung kelapa dipilih sebagai bahan baku karena memiliki tekstur, karakteristik dan kesan unik, klasik serta bernilai seni. Tahapan produksi kerajinan tangan tersebut meliputi pengolahan sabut kelapa (pemilihan serat sabut berkulitas dan proses sterilisasi), pengolahan tempurung kelapa menjadi tambahan asesoris dan pembuatan produk jadi. 

Dalam proses produksinya melibatkan dan memberdayakan  masyarakat lokal sesuai keahliannya. Masyarakat juga mendapatkan pengetahuan tentang produk sehingga, selain dapat meningkatkan perekonomiannya juga mengetahui kriteria produk berkualitas.

Menurut Rizky, mereka telah melahirkan sejumlah produk di antaranya beberapa jenis tas wanita maupun pria, dan kerajinan berupa binder dengan beberapa pilihan warna dan ukuran. Untuk memudahkan pemasaran, mereka juga memanfaatkan media sosial dan penjualan onine.

“Lumayan, omzet kami saat ini rata-rata Rp 2 juta per bulan,” bebernya.

Berdasarkan survei pasar yang dilakukan menunjukkan produk Edelweis diminati sebagian besar masyarakat khususnya remaja sampai dewasa. Namun, masyarakat yang menggunakan produk masih didominasi  kalangan menengah ke atas. Untuk itu Rizky dan kawan-kawan perlu lebih aktif membangun pasar untuk produk mereka.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 62

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia