Ada Seribu Pintu di Lawangsewu?

Created on Thursday, 09 March 2017
Meski berumur lebih dari seabad, Lawang Sewu masih terlihat apik. Bangunan kuno, landmark Kota Semarang, Jawa Tengah ini, benarkah memiliki seribu pintu? 

 

Lawang Sewu berarti pintu seribu. Disebut Lawang Sewu, karena bangunan peninggalan Belanda ini seperti memiliki seribu pintu. Ba-nyaknya pintu dan jendela besar yang lebih menyerupai pintu, membuat masyarakat menyebutnya Lawang Sewu. Memang ada banyak versi cerita seputar jumlah pintu di Lawang Sewu ini. 

Lantas, berapa sebenarnya jumlah pintu di Lawang Sewu? “Jumlah lubang pintunya ada 429. Kalau daun pintunya bisa lebih dari seribu, sekitar 1.200, karena ada pintu dengan satu daun pintu dan dua daun pintu. Memang, inilah keunikan Lawang Sewu, karena sampai saat ini pengunjung yang mencoba menghitung jumlah pintunya, selalu mendapatkan hasil yang berbeda setelah mengulangi hitungannya,” kata Wal Waluyo, seorang pemandu wisata. 

Lawang Sewu dibangun dalam kurun tahun tahun 1904-1907. Dirancang oleh dua arsitektur Belanda, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Ouendag. Belanda membangun gedung di area seluas 18.232 meter persegi tersebut, sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta (Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatscappij/NIS). 

Pembangunan kantor pusat di Semarang itu dirasa perlu, setelah NIS menambah jalan kereta api dari Semarang ke Surakarta dan Yogyakarta. Jalan kereta api yang menjangkau Vorstenlanden (sebutan Pemerintah Hindia Belanda untuk wilayah Surakarta dan Yogyakarta) merupakan lanjutan pembangun-an rel kereta api di Jawa Tengah. Di wilayah ini, rel kereta api pertama dibangun tahun 1867, yang menghubungkan Semarang dan Temanggung.  

“Keberadaan Lawang Sewu tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkeretaapian Indonesia. Apalagi gedung ini juga pernah jadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (kini PT Kereta Api Indonesia/KAI). Salah satu ruangan di sini, sekarang juga difungsikan sebagai museum sejarah kereta api. Pengunjung dapat melihat contoh lokomotif kuno, foto-foto pada zaman Belanda, dan penggalan kisah tentang kereta api Indonesia,” ujar Wal. 

Akan Dirobohkan

Menurut pemandu lainnya, Arif, pertengahan tahun 1990-an sempat tersebar kabar bahwa bangunan Lawang Sewu akan dirobohkan. Karena, lahannya diakui merupakan milik salah satu putri mantan presiden RI di era Orde Baru. 

“Katanya, akan dibangun hotel di sini. Syukurlah, kabar itu tidak benar. Sebab, sangat disayangkan kalau bangunan bersejarah ini, yang bahkan sudah menjadi landmark yang mempopulerkan Kota Semarang, harus dirobohkan. Setelah terbuka untuk umum, Lawang Sewu pun semakin dikenal sebagai objek wisata favorit di Semarang. Mestinya, ini kita jaga dan lestarikan,” kata Arif. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 63

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia