Gedung Merdeka, dari Warung Kopi hingga Museum

Created on Tuesday, 17 January 2017
Ada yang berbeda saat mengunjungi Gedung Merdeka, akhir Desember lalu. Ruang konferensi, yang biasanya tertata apik dan bersih, tampak berantakan. Rupanya, sedang ada renovasi di ruangan yang menjadi saksi terselenggaranya Konferensi Asia Afrika tahun 1955 itu. 

 

Renovasi atau pemugaran gedung bersejarah yang berada di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat itu, bukan baru kali ini saja. Sebelum dikenal sebagai Gedung Merdeka, bangunan yang kini difungsikan untuk Museum Asia Afrika tersebut, adalah warung kopi yang konon dibangun tahun 1895. 

Seperti ditulis Harian Pikiran Rakyat (24 April 2005), tahun 1920, arsitek dan guru besar Technisce Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik, yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung/ITB) berkebangsaan Belanda,  Van Gallen Last dan C.P Wollf Schoemaker “menyulap” warung kopi sederhana menjadi bangunan paling megah di Bandung pada masanya. Berlantai keramik impor dari Italia dan dihiasi lampu-lampu kristal yang mewah. Bangunan dengan arsitektur khas Belanda yang dipadukan sentuhan budaya Nusantara itu pun diberi nama Societeit Concordia, dan diresmikan tahun 1928. 

Renovasi pertama sejak gedung ini diresmikan, dilakukan tahun 1940. Bukan merombak total, hanya pembenahan sedikit di bagian sayap kiri bangunan. Arsitek A.F Aalbers, memimpin pemugaran tersebut, mengubah gaya sebelumnya yakni art deco menjadi international style. Dengan renovasi itu, Pemerintah Hindia Belanda ingin menonjolkan fungsi bangunan sebagai tempat rekreasi.

Dalam paparan mengenai sejarah Gedung Merdeka yang tersimpan di perpustakaan Museum Asia Afrika, disebutkan, saat Belanda hengkang dari Indonesia dan digantikan oleh Jepang, nama Societet Concordia diubah menjadi Dai Toa Kaikan dan difungsikan sebagai gedung pusat kebudayaan. Sayang, tahun 1944 salah satu sisi bangunan, yang diberi nama Yamato, terbakar hebat. Tidak ada perbaikan setelah kebakaran, yang memorakporandakan bagian bangunan di sayap kiri, yang merupakan ruang jamuan makan tersebut. 

Masih Terawat

Setelah masa penjajahan Jepang berakhir dan RI merdeka, Societet Concordia dijadikan markas pemuda. Gedung ini juga difungsikan untuk kantor pemerintahan di Bandung. Baru kemudian mulai 1950 bangunan yang dibangun di area seluas sekitar 7.200 m2 tersebut dikembalikan fungsinya menjadi tempat rekreasi dan kebudayaan. 

Renovasi pertama oleh Pemerintah RI dilakukan Jawatan Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat, menjelang digelarnya Konferensi Asia Afrika (KAA). Arsitek yang diberi tugas mengomando pemugaran gedung adalah Ir Srigati Santosa. Beberapa gedung di Bandung pada waktu itu juga direnovasi, terutama yang akan digunakan untuk kegiatan KAA. Setelah renovasi rampung, Presiden Soekarno meresmikan gedung baru tersebut dan mengubah namanya menjadi Gedung Merdeka. Selain itu, Bung Karno juga mengubah nama gedung di dekatnya, yang akan dipakai untuk sidang KAA, yakni Gedung Dana Pension, menjadi Gedung Dwi Warna. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 61

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia