Jejak Kejayaan Budha di Tanah Melayu

Created on Friday, 04 November 2016
Candi Muaro Jambi dibangun abad 7-12 Masehi. Sayang, peninggalan jejak kejayaan Budha di Tanah Melayu, yang lebih kuno dari Candi Borobudur ini, belum diakui sebagai warisan budaya dunia. 

Arkeolog memperkirakan terdapat ratusan candi di kompleks situs purbakala di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Tersebar di sekitar Daerah Aliran Sungai Batanghari, kira-kira 35 km dari Kota Jambi. Namun, hingga ini baru delapan candi yang terlihat wujudnya, setelah melalui proses penggalian (okupasi) yang tidak mudah dan memakan waktu bertahun-tahun. Luas kompleks Candi Muaro Jambi mencapai hampir 3.900 ha, jauh lebih luas dibanding kawasan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang tak lebih dari 20 ha. 

Borobudur dibangun abad 8 Masehi, dan merupakan candi Budha terbesar di dunia. Tahun 1991 Candi Borobudur ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization). Kini Kementerian Pariwisata juga memasukkan Candi Borobudur dalam 10 destinasi wisata unggulan di Tanah Air, dalam upaya menggenjot jumlah wisatawan mancanegara (Wisman) hingga 20 juta orang di tahun 2019. Dengan berbagai promosi wisata pemerintah ingin kunjungan Wisman di Borobudur mengalahkan Ankor Wat, kuil Budha di Kamboja yang setiap tahun disambangi sekitar dua juta turis asing. 

“Kalau dikelola dan dikembangkan dengan baik, Candi Muaro Jambi pun bisa dikenal dunia, seperti Borobudur. Candi Muaro Jambi adalah peninggalan purbakala yang sangat penting. Sayang, jika situs yang menyimpan jejak kejayaan nenek moyang kita ini, terbengkalai,” kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari, kepada Majalah Sains Indonesia saat mengunjungi Candi Muaro Jambi beberapa waktu lalu.  

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 59

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia