Ciplukan, Benalu Yang Makin Laku

Created on Friday, 12 January 2018
Diyakini memiliki banyak khasiat, ciplukan kini makin laku. Tanaman liar yang dianggap sebagai benalu ini pun mulai dibudidayakan. 

 

Di salah satu swalayan ternama di Jakarta, sepuluh buah ciplukan yang sudah dikupas dan dikemas dalam plastik mika, dibanderol dengan harga Rp 17.000. Seperti tak percaya dengan label harga yang tertera, Nurhadi (47), seorang guru Sekolah Dasar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, yang ingin membelinya, bertanya pada pramuniaga. “Mbak, ini benar harganya tujuh belas ribu? Kok mahal sekali ya,” katanya yang dijawab dengan anggukan oleh si pramuniaga. 

Masih tak percaya dengan harga ciplukan yang dibeli, lelaki berkaca mata itu berujar kepada petugas di kasir, “Lha dulu kalau pulang sekolah, saya dan teman-teman senang nyari ciplukan di sawah atau kebun. Memang, sekarang di kampung saya, tanaman ini sudah jarang. Tapi, masa sih harganya jadi semahal ini.” 

Ciplukan atau ceplukan (Physalis angulata L.), yang juga dikenal dengan nama cecendet atau leletokan, setidaknya dalam satu tahun terakhir, makin banyak menghiasi gerai buah di hampir semua swalayan ternama di Jakarta dan sekitarnya. Maharani, pegawai di Farmers Market Bekasi, mengatakan, setiap hari setidaknya terjual 15 kemasan, masing-masing berisi 10 buah ciplukan matang. 

“Saya pernah iseng menanyakan ke seorang pembeli, kenapa suka dengan ciplukan. Katanya, sebenarnya dia tidak suka. Tapi, karena info dari teman, kalau ciplukan bisa menurunkan kolesterol dan sudah dibuktikan oleh temannya itu, jadi dia mulai rutin memakan ciplukan sejak beberapa bulan lalu,” kata Maharani, kepada Majalah Sains Indonesia. 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 73 Januari 2018

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia