Sudharto P Hadi, Terkenal Lagi karena Debat Capres

Created on Thursday, 28 August 2014
Sekian lama jarang muncul di media massa, sontak sosoknya menjadi perhatian.

 

Memandu acara debat calon presiden (capres), pada 5 Juli lalu, membuatnya kembali dikenal publik. Inilah Prof Sudharto P Hadi. Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini pun mengaku bangga mendapat kesempatan memandu acara yang spesial dan berada di antara para capres.

Prof Sudharto saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, sejak 2010. Terpilihnya Sudharto menjadi moderator debat Capres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah melalui seleksi yang panjang. Masing-masing calon moderator harus memenuhi sejumlah kriteria, terutama harus menguasai isu-isu sesuai tema yang disodorkan pada setiap putaran debat Capres.

Profesor yang hobi menonton acara televisi tentang geografi, terutama mengenai flora dan fauna ini adalah Guru Besar Sosiologi Lingkungan Undip. Melihat latar belakang studinya pun tak diragukan, bila pria yang lahir pada 3 September 1954 ini sangat menguasai bidang lingkungan, energi, dan pangan. Sudharto menyelesaikan jenjang S2 di Faculty of Environmental Studies,York University, Toronto, Kanada tahun 1989. Kemudian, tahun 1993 ia menamatkan program doktoral di School of Community and Regional Planning, University of British Columbia (UBC), Vancouver, Kanada.

Sebelum menjabat Rektor Undip, sosok Sudharto dikenal publik karena acapkali menjadi pembicara di seminar-seminar lingkungan hidup. Pria yang menyukai olahraga tenis ini pernah dipercaya menjadi Country Coordinator pada Sustainable Energy and Environmental Forum yang berbasis di Kyoto University, Jepang. Prof Dharto, begitu ia akrab disapa, juga sempat menjabat di pemerintahan. Tahun 2000-2002 ia menjadi Deputi Bidang Pengembangan Hukum Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). “Setelah itu, menjadi Staf Ahli Menteri LH Bidang Ekonomi Lingkungan. Untuk yang terakhir ini, hanya enam bulan,” katanya kepada Majalah Sains Indonesia, belum lama ini.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 33

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia