Role Model Bagi Pengembangan Masyarakat Pesisir

Created on Tuesday, 12 December 2017

 

Untuk kedua kalinya, saya mendapat kepercayaan untuk menulis buku lesson learn dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta International Fund for Agricultural Development (IFAD), sebuah organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bermarkas di Roma. Buku pertama berjudul Menyejahterakan Masyarakat Pesisir Secara Berkelanjutan (Desember 2016). Buku kedua, insya Allah terbit Desember 2017. Kedua buku ditulis bersama dengan Dr Sapta Putra Ginting, yang juga Direktur Eksekutif PMO CCDP IFAD. 

Setelah lima tahun berjalan, Proyek Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (Coastal Community Development Project atau CCDP) berakhir 31 Desember 2107. Proyek bantuan IFAD dalam bentuk soft loan (pinjaman lunak) senilai US$ 32 juta dan grant (hibah) sebesar US$ 2 juta itu menjangkau masyarakat pesisir di 181 desa yang berada di 13 kabupaten/kota dan 10 provinsi.

Proyek CCDP, menurut catatan saya, menuai berbagai kesuksesan. Hal itu juga terbukti dari hasil Annual Outcome Survey (AOS) serta Result and Impact Management System (RIMS) yang dilakukan Tim Konsultan yang dipimpin Dr Hamzah Bustomi MM. 

AOS pada 2017 membuktikan, terjadi peningkatan pendapatan baik dari sumber mata pencaharian di bidang pesisir, kelautan perikanan, maupun sumber lain. Tak hanya itu, CCDP juga mampu menurunkan periode kekurangan pangan. Jika pada tahun 2015, rata-rata periode kekurangan pangan mencapai 4,5 hari maka pada 2017 sudah tidak ada lagi kasus serupa.

Produksi perikanan tangkap juga meningkat lebih dari 80 % pada 2017 dibandingkan 2015. Peningkatan serupa juga terjadi pada perikanan budidaya (tambak). Tak hanya itu, jumlah pinjaman cenderung menurun. Jika tahun 2015 jumlah hutang mencapai 60,5 % maka pada 2017 turun menjadi 37,5 %. Begitu juga dengan pinjaman ke tengkulak, jauh berkurang.   

Sementara itu, berdasarkan RIMS pada 2017, CCDP telah menunjukkan hasil yang sangat signifikan dalam peningkatan pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat. CCDP juga menurunkan kasus kekurangan nutrisi pada anak-anak. Menurut Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid MSi, proyek CCDP di wilayahnya berhasil menurunkan angka kemiskinan sebesar 50 %. Selain pendapatan meningkat, terjadi juga peningkatan lapangan kerja, penambahan aset warga, dan tabungan masyarakat.  

IFAD dan Pemerintah Indonesia beberapa kali menggelar joint review terkait dengan kinerja CCDP. Hasilnya, proyek ini selalu mendapat rating penilaian satisfactory (memuaskan). CCDP dinyatakan sebagai salah satu proyek IFAD terbaik di suluruh dunia.

Kepuasan serupa juga diungkapkan Ron Hartman, Country Director IFAD Sub-Regional Office for South East Asia and The Pacific. “Dari indikator-indikator kesuksesan yang dihasilkan kita bisa melihat adanya semangat untuk lebih maju dari masyarakat pesisir Indonesia yang menerima bantuan IFAD,” ujar Hartman. Ia berharap, pemerintah Indonesia bisa melanjutkannya. 

“Program CCDP-IFAD di Indonesia bisa menjadi contoh. Bahkan program tersebut dapat diadopsi oleh pemerintah Indonesia untuk terus membangun masyarakat pesisir,” katanya.  

Hal serupa juga dilontarkan Direktur Kelautan dan Perikanan, Bappenas Anang Nugroho. Menurutnya, keberhasilan yang telah dicapai CCDP-IFAD bisa menjadi role model bagi pengembangan dan pembangunan masyarakat pesisir di Indonesia.

Muhammad Budiman

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia