Padukan Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Created on Thursday, 02 November 2017

 

Akhir Oktober lalu Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perindustrian membeberkan catatan menarik terkait peringkat 10 terbesar penyumbang devisa di Indonesia. Devisa negara menunjukkan kekuatan ekonominya. Makin besar devisa berarti kian banyak valuta asing (dolar) yang masuk negara sehingga ekonominya pun makin tajir.

Penyumbang devisa nomor wahid adalah hasil ekspor kelapa sawit sebesar Rp 239 triliun. Lalu disusul dengan jasa pariwisata (turis asing) Rp 190 triliun. Urutan berikutya ekspor: tekstil (Rp 159 triliun), Migas (Rp 170 triliun), batubara (Rp 150 triliun), jasa TKI (Rp 140 triliun), elektronik (Rp 80 triliun), hasil kayu hutan (Rp 70 triliun), karet (Rp 65 triliun), serta sepatu dan sandal (Rp 60 triliun).

Apa yang menarik dari data tersebut? Ternyata dari 10 jenis penyumbang terbesar tersebut, sebanyak tujuh disumbang oleh keunggulan komparatif (comparative advantage). Hanya tiga, yakni tekstil, elektronik, serta sepatu dan sandal yang mengandalkan keunggulan kompetitif.

Comparative advantage merupakan keunggulan yang dianugerahkan Sang Pencipta Alam Semesta dalam bentuk kekayaan sumber daya alam (perkebunan, hutan, Migas, batubara, keindahan alam, iklim, dan tanah subur). Kita dikaruniai perkebunan sawit terluas di dunia. Tak hanya itu, iklim tropis ikut memberi kontribusi positif bagi produktivitas sawit.

Kondisi ini jelas tidak dipunyai negara-negara maju di lintang tinggi. Selain mereka tak punya lahan kebun yang luas, iklim yang terdiri dari empat musim tak cocok bagi budidaya sawit. 

Karena itulah tak mengherankan jika produk crude palm oil (CPO) dari Indonesia merajai pasar dunia dan memberi pundi-pundi devisa yang sangat tinggi. Kondisi serupa juga terjadi pada karet. 

Tak banyak negara yang punya lahan luas dan iklim yang serasi untuk membudidayakan pohon karet. Hanya negara yang berada di lintang tropis lah yang sanggup menghasilkan getah karet secara efektif.

Perkebunan Indonesia memang memiliki keunggulan komparatif yang membanggakan. Namun kalau ditelisik lebih jauh, kita masih minim memadukan keunggulan komparatif tersebut dengan keunggulan kompetitif (competitive advantage).

Akibatnya, produk yang dihasilkan masih bernilai tambah (added value) rendah. Padahal potensi untuk menaikkan nilai tambah masih terbuka lebar. Pada produk CPO kelapa sawit misalnya, bisa ditingkatkan nilai tambahnya melalui industri hilir yang memproduksi antara lain mentega, farmasi, kecantikan, sabun, dan bahkan bahan bakar (bio fuell).

Produk-produk industri hilir ini lahir dari sentuhan inovasi sehingga memiliki keunggulan kompetitif dan bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, produk tersebut dapat bersaing (kompetitif) di pasar.

Populasi penduduk Indonesia sekitar 250 juta orang merupakan potensi pasar lokal yang sangat menggairahkan. Rsanya tidaklah sulit jika produk-produk lokal kita nantinya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. 

Tak hanya menaikkan nilai tambah, tumbuhnya industri hilir juga mampu membuka lapangan kerja baru. Kondisi ini akan membuat perekonomian negara semakin kuat.  

Kita berharap, semua stake holder (pemerintah, pengusaha, periset, dan inovator) bergandengan tangan untuk menciptakan keunggulan kompetitif ini. Jika kedua keunggulan (komparatif dan kompetitif) ini dipadukan, niscaya devisa dan perekonomian bangsa makin kokoh.

Muhammad Budiman    

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia