HOAX

Created on Wednesday, 08 March 2017
 

Hoax (berita bohong atau palsu) kian marak di era teknologi informasi ini. Hoax tak hanya bersumber dari para individu. Lembaga resmi pemerintah pun melakukan hal serupa melalui berbagai media, baik sosial, cetak, elektronik, maupun online. 

Dunia sains juga tak luput dari hoax. Masih ingat aksi pendaratan Apollo di bulan pada 1968-1972? Itulah hoax terbesar bidang sains yang dilakukan Amerika Serikat (AS). 

Foto-foto astronot menjejakkan kakinya di bulan yang di-release Badan Antariksa AS (NASA) secara kasat mata sebenarnya meragukan banyak pihak, khususnya ilmuwan. Bagaimana mungkin, bendera AS dapat berkibar ditiup angin padahal di bulan itu hampa udara. Angin terjadi jika ada udara yang bergerak.

Pernyataan David Gelernter, Penasihat Sains dan Teknologi Presiden ke-45 AS Donald Trump belum lama ini semakin memperkuat bahwa negara adi kuasa itu telah melakukan hoax terbesar dalam sejarah. Ia berargumentasi, semua perangkat elektronik modern tidak akan berfungsi saat menembus bulan akibat cekaman radiasi yang sangat kuat.

Dalam dunia politik di Tanah Air, setiap hari kita juga menemukan hoax. Apalagi menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada), baik gubernur maupun bupati/walikota. Sudah menjadi kelaziman bagi para pendukung pasangan calon (Paslon) untuk saling serang dengan be-rita palsu ke pesaingnya. 

Lebih kejinya lagi, mereka saling mengumbar aib Paslon. Allah SWT saja menutupi aib kita. Barang siapa mengumbar aib orang lain, laksana ia memakan bangkai saudaranya sendiri. Sungguh menjijikkan. 

Kendati sudah ada Paslon yang terpilih, namun hoax masih dilontarkan dari para pendukung yang kalah berlaga. Kalau sudah begini rasanya ruang untuk membangun bangsa semakin sempit dan terhimpit terdesak oleh caci maki yang terus diumbar. Kebersamaan yang pernah dimiliki saat bangsa Indonesia mulai merdeka kian luntur oleh saling ejek.

Kita semakin langka mendengar kalimat-kalimat arif bijak yang berisi ajakan kebaikan. Mestinya mayoritas berita seperti inilah yang kita usung dan terus didengungkan. Mari tampilkan berbagai program unggulan dan bagaimana misi tersebut dijalankan agar sesuai harapan.

Bagi warga Jakarta yang bersiap menghadapi putaran kedua Pilkada, sebaiknya fokus saja pada topik utama yang perlu segera dicarikan solusi jitu. Bukankah sampai kini banjir semakin parah? Lihatlah pula kemacetan lalu lintas yang kian merajalela, terutama pada jam-jam pergi dan pulang bekerja.

Begitu juga dengan kerawanan sosial seperti banyaknya pengangguran, pengemis jalanan, rumah kumuh di bantaran sungai, korupsi yang masih merajalela, narkoba, dan berbagai masalah sosial ekonomi lainnya. Semua itu perlu mendapat ruang yang lebih luas untuk dibahas dan dicarikan penanganannya.

Kita ganti berita palsu dengan informasi yang menyejukkan dan menggairahkan berbentuk problem solving. Dari sinilah niscaya mampu mengangkat harkat, martabat, dan kesejahtraan rakyat Indonesia. 

Daripada energi kita habis terkuras hanya untuk membuat berita sampah, marilah secara bersama-sama fokus untuk hal-hal yang memang membutuhkan solusi.

Muhammad Budiman

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia