Menangkal Mafia Cabe

Created on Monday, 30 January 2017

 

 

Dalam beberapa pekan terakhir ini kita dibuat terpana. Harga cabai rawit di Sorong, misalnya melonjak mencapai Rp 200.000 per kg. Di Jawa Barat walaupun tak sebesar di Papua, yakni Rp 100.000 per kg namun harga cabai tergolong fantastik. 

Bayangkan, cabai yang tergolong mudah dan murah dibudidayakan itu harganya melampaui harga daging sapi. Informasi yang berkembang, melonjaknya harga cabai tersebut akibat permainan segelintir tengkulak yang menguasai pasar. 

Begitulah jika mafia beraksi, pasar dibuat tak berdaya. Hampir setiap tahun, kita mengalami hal serupa, berulang-ulang. Terlepas dari masalah tersebut, sebenarnya kita tak perlu risau menghadapi spekulan. Bahkan setiap keluarga secara mandiri bisa menghasilkan cabe dari pekarangan rumah, sekalipun dalam ukuran lahan yang sempit.

Apalagi kita dikaruniai Sang Maha Pencipta berupa alam subur dengan iklim yang sangat bersahabat. Kapan pun kita bisa membudidaya-kan tanaman. Tak seperti iklim di Eropa dan negara berlintang tinggi. 

Saat musim gugur hingga dingin mereka tak bisa membudidayakan tanaman secara ala-mi lantaran terbatasnya faktor suhu dan sinar matahari. Maklum, tanaman budidaya tersebut tak mampu tumbuh dan berkembang secara optimal pada suhu di bawah 0 derajat Celsius.

Tanaman juga akan minim produksi saat matahari tak menampakkan sinarnya. Cahaya surya menjadi faktor utama dalam proses fotosintesis tanaman. Tanpa fotosintesis yang sempurna, tanaman tak mampu menghasilkan panen yang baik.

Kondisi ini sangat berbeda dengan iklim tropis Indonesia. Kapan pun kita bisa membudidayakan cabe karena memang sinar matahari berlimpah, suhu udara yang hangat, dan keter-sediaan air yang berkecukupan.

Keunggulan komparatif inilah yang perlu kita manfaatkan dengan memberi sentuhan keunggulan kompetitif mengenai cara dan teknik budidaya cabe yang benar. Di antaranya dimulai dari penyiapan media tanam, benih, perawatan, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Perpaduan antara keunggulan komparatif dan kompetitif inilah yang akan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Jadi, meskipun cabai ditanam di polybag-polybag di lahan sempit, asalkan dibudidayakan dengan cara yang benar, percayalah, hasilnya akan maksimal. 

Setidaknya, bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga setiap hari. Jika produksinya berlebih, bisa dijual dan ditukar dengan komoditas pertanian lainnya. Dengan demikian, selain menghemat belanja harian juga mampu mendatangkan penghasilan tambahan.

Gerakan menanam sejuta cabai yang digalakkan Kementerian Pertanian, termasuk di lahan-lahan pekarangan nan sempit merupakan langkah mulia. Apalagi gerakan tersebut diikuti dengan pemberian bibit cabe yang selama ini memang menjadi salah satu kendala bagi pembudidaya.

Bisa dibayangkan tiga bulan setelah sejuta bibit tersebut ditanam. Kita bakal memanen cabe dalam jumlah yang berlimpah ruah. Kalau gerakan tersebut sukses, bisa jadi masyarakat dapat mandiri dalam mencukupi kebutuhannya.
Lebih dari itu, mafia cabe pun tak sanggup beraksi lagi. 

Muhammad Budiman

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia