Dicari: Donatur Beasiswa

Created on Wednesday, 04 January 2017

 

Pada 30 November 2016 lalu saya diundang Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Herry Suhardiyanto MSc untuk menerima apresiasi sebagai salah satu donatur beasiswa. Acara bertema Tribute To IPB’s Scholarship Contributors 2016 ini memang menarik perhatian.

Beberapa mahasiswa penerima beasiswa menghiburnya dengan berbagai suguhan seni dan budaya. Ada sekelompok mahasiswi asal Jawa Timur membawakan tarian tradisional khas Banyuwangi yang begitu memesona. 
Di samping itu, penyanyi seriosa, grup band, hingga lagu-lagu dangdut juga dipersembahkan secara bergantian kepada para tamu dari berbagai perusahaan pemberi beasiswa. Kreativitas seni yang ditampilkan cukup memukau, mengibur, dan berkualitas.

Rektor IPB yang tadinya dijadwalkan hadir memberikan sambutan, akibat kesehatannya kurang fit, digantikan oleh Wakil Rektor IPB Bidang Kemahasiswaan, Prof Dr Yonny Koesmar-yono MSi. “Atas nama IPB, kami mengucapkan terima kasih atas donasi yang telah diberikan,” kata Yonny mengawali sambutannya.

Saat memberikan plakat penghargaan kepada Majalah Sains Indonesia, Yonny pun secara khusus mengatakan: “Tolong pemberian beasiswanya dilanjutkan, jangan sampai dihentikan.” Sambil berjabat tangan, saya pun menjawab singkat: “Insya Allah.”

Apalagi setelah mendengarkan paparan yang ia sampaikan di depan para donatur. Secara pribadi, saya sangat prihatin dengan kondisi mahasiswa IPB terkini. Betapa tidak, saat ini jumlah pemberi beasiswa menurun, baik dari pemerintah maupun swasta.

Namun di sisi lain, jumlah mahasiswa kurang mampu secara ekonomi justru meningkat. “Kami juga sudah sampaikan hal ini kepada DPR agar pemerintah bersedia menambah beasiswa. Namun hingga kini belum ada realisasinya. Karena itu berapa pun bantuan beasiswa yang diberikan dari para donatur, kami siap terima,” ujar Yonny.

Perhatian khusus juga diberikan kepada mahasiswa kurang mampu secara ekonomi dengan nilai indeks prestasi (IP) yang pas-pasan. Bagi mahasiswa yang berkecukupan dengan IP tinggi pasti mudah mendapatkan beasiswa. Begitu juga mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi dengan IP tinggi juga gampang memperoleh beasiswa.

Mengapa demikian, karena donatur memang mensyaratkan calon penerima beasiswa dengan IP tinggi. Namun bagaimana dengan mahasiswa yang lemah ekonomi dengan IP rendah? Kondisi mahasiswa seperti ini pastilah sulit mendapatkan beasiswa. “Inilah yang juga menjadi tanggung jawab kami,” tuturnya.

Yonny pun tahu persis, mahasiswa IPB dengan IP 2,00 sebenarnya bukan tipe pemalas. Mereka sudah berjuang dan belajar mati-matian untuk mendapatkan nilai terbaik. Mungkin karena mereka mengalami banyak masalah sosial ekonomi, hasilnya belum maksimal.

Meski IP-nya pas-pasan, kata Yonny, beberapa di antaranya malah bisa mencapai gelar profesor. Ini menunjukkan mahasiswa IPB ber-IP rendah dapat menggapai jenjang karir yang gemilang di masa depan.

Muhammad Budiman

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia