Ekosistem Yang Terjaga, Mampu Mempertahankan IP Padi 300 di Serang

Created on Wednesday, 10 January 2018

 

Padarincang merupakan salah satu wilayah produsen padi di Kabupaten Serang dengan luas areal sebanyak 3.700 ha.  Wilayah persawahan di Kecamatan ini dikelilingi pegunungan  sehingga tergambar seperti sebuah mangkok besar yang berada pada wilayah ketinggian.  Wilayahnya yang sejuk dan hijau menjadikannya tampak asri. 

Seperti halnya wilayah lain di Kabupaten Serang, Padarincang tidak merasakan paceklik saat ini. Beberapa wilayah desa di kecamatan ini melakukan panen hampir setiap hari, salah satunya Desa Kadubeureum.  Hamparan sawah menguning seluas 10 ha di desa ini siap untuk dipanen dan telah dimulai hari ini.

Lokasi panen hari ini berada di Kelompok Tani Giat dengan jumlah anggota 22 orang.  Cuaca mendung tak menghalangi petani untuk melakukan panen karena mereka menyadari dampak buruk bila panen dilakukan terlambat. 

Tingkat produktivitas yang dihasilkan cenderung stabil, yaitu rata-rata mencapai 5.6 ton/ha dengan jenis Varietas Mekongga dan Ciherang.  "Harga jual gabah cukup baik, yaitu sekitar Rp. 4.700 - 4.800 per kg"  ujar Wawan, Ketua Poktan Giat kepada Kepala Balai Besar Pengkajian dan  Pengembangan Teknologi Pertanian, Haris Syahbuddin yang hadir di lokasi didampingi BPTP Balitbangtan Banten. Poktan Giat, penyuluh dan Babinsa setempat menyambut hangat kedatangan tamunya.  Mereka merasa mendapat perhatian dari pemerintah. "Terima kasih atas kunjungan ini dan mudah-mudahan menjadi penyemangat bagi petani di sini" ujar Iip Sudjatna, Penyuluh setempat.  

"Wilayah Desa Kadubeureum memiliki IP 300  atau menerapkan 3 kali musim tanam dalam setahun" pungkas Iip. Oleh karena itu, produksi padi di wilayah ini cukup tinggi dan melimpah.  Petani menyatakan kekhawatirannya bila terjadi impor karena dapat menjatuhkan harga padi mereka.  

Adanya pelaksanaan IP 300  sangat didukung  oleh keberadaan aliran irigasi yang baik di lokasi ini.  Poktan mengelola irigasi dalam areal persawahan secara mandiri. Secara rutin, petani bergotong royong melakukan gerakan membersihkan dan melancarkan saluran air.  Setiap petani menyisakan lahannya sekitar 30 cm di  sekeliling petak sawahnya sebagai saluran air yang akan mengalir ke sawah lainnya.  Saluran tersebut tidak mengganggu  pertanaman yang ada  sehingga air akan tetap mengalir dengan lancar. 

Sumber air irigasi untuk Desa Kadubeureum tersedia melimpah yang berasal dari air terjun yang ada di desa tersebut, yaitu Curug Cigumawang. Ekosistem yang terjaga di pegunungan pada kawasan ini membuat ketersediaan air terjamin dan melimpah untuk wilayah ini.  "Dulu pernah terjadi kemarau panjang selama kurang lebih 8 bulan, kalau tidak salah 1997 dan 2015 baru lalu, tapi air di desa ini tetap tersedia dan pertanaman tetap terairi dengan baik" ungkap Wawan.  

Selain potensi di sektor pertanian, sisi lain yang menguntungkan dari Desa Kabubeureum adalah akses jalan yang baik dari ibukota kabupaten ke wilayah ini. Jalan yang dibeton dengan kondisi baik memperlancar aktivitas warga, termasuk aktivitas perdagangan di sektor pertaniannya.

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia