Varietas Unggul Baru Tingkatkan Produksi di Tangerang

Created on Wednesday, 10 January 2018

 

Kabupaten Tangerang selain terkenal sebagai wilayah industri yang cukup maju, juga merupakan wilayah pertanian yang sangat potensial.  Tahun 2016, wilayah ini memiliki areal tanam padi seluas 80, 8 ribu ha. Dengan areal tersebut, wilayah ini menghasilkan produksi padi sebesar 384.5 ribu ton GKG atau menyumbang sekitar 16.30 persen dari seluruh produksi Provinsi Banten.

Produksi tersebut diprediksi akan terus mengalami peningkatan di tahun 2017 karena hingga saat ini yang seharusnya terjadi paceklik, wilayah ini terus melakukan panen setiap hari.

Kegiatan panen hari ini berlangsung di Desa Buaran Jati Kec. Sukadiri, tepatnya di wilayah Poktan Blok Kebo. Hamparan panen di wilayah ini cukup luas, yaitu 35 ha. Sedangkan hamparan panen Desa Buaran Jati mencapai 
147 ha, dan hamparan panen untuk wilayah kecamatan adalah seluas 1621 ha. 

"Pertanaman di wilayah Poktan Blok Kebo menggunakan Varietas Inpari 30," ungkap Ahmad, Ketua Poktan Blok Kebo kepada Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), Haris Syahbuddin,  yang hadir di lokasi panen bersama dengan peneliti BPTP Banten, dan penyuluh setempat.  Tingkat produktivitas yang dihasilkan cukup baik, yaitu mencapai 6.5 ton/ha GKP dengan harga jual berkisar  Rp.5.000 - 5.500 per kg.  Tingginya produksi yang dihasilkan selain karena penerapan budidaya yang baik juga terutama karena penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB).  

Inpari 30 merupakan salah satu VUB Badan Litbang  Pertanian yg dilepas untuk menggantikan posisi Ciherang.  Karakteristik Inpari 30 mirip dengan Ciherang namun memiliki keunggulan, yaitu mampu tahan pada kondisi rendaman sehingga cocok untuk wilayah yang rawan banjir, menghasilkan potensi produksi lebih tinggi dari Ciherang.   Pemakaian Ciherang secara terus menerus dikhawatirkan akan mengakibatkan ledakan OPT seperti hama Wereng Batang Coklat (WBC), walaupun sebenarnya pada awalnya varietas tersebut tahan WBC.  

Pertanaman di wilayah Poktan ini relatif aman dari serangan WBC, terutama karena telah dilakukannya pergiliran varietas tanaman dari Ciherang ke Inpari 30.  Dalam ha ini, telah dilakukan tindakan pencegahan sebelum adanya kejadian. Hal ini sangat meringankan tugas Pengamat Hama (POPT) di lapangan.

Alwiyah, anggota Poktan  yang dijumpai di lapangan menyampaikan rasa bahagianya akan panen yang dihasilkan saat ini karena jerih payahnya membuahkan hasil yang maksimal dengan  harga jual yang cukup baik.

Ungkapan bahagia tidak hanya dinyatakan oleh petani, tapi juga oleh pemilik penggilingan, Misbach di lokasi Poktan tersebut. Misbach mengungkapkan bahwa rendemen gabah yang dihasilkan petani cukup bagus, yaitu sekitar 60-65 %.  Setiap hari penggilingannya mampu menghasilkan beras sebanyak 4 ton dari sekitar 6-7 ton Gabah Kering Giling (GKG).

Ahmad, selaku Ketua Poktan menyampaikan keprihatinannya bila terjadi impor beras. Harga akan jatuh dan membuat terpuruk ekonomi rumah tangga petani. Lebih lanjut, ia menyampaikan rasa sedihnya jika benar-benar impor terjadi maka  kerja keras petani  untuk menghasilkan produksi yang maksimal menjadi tidak berharga.

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia