Berkat Mekanisasi, Panen Padi Jadi Lebih Efisien

Created on Wednesday, 03 January 2018

Kementerian Pertanian (Kementan), membagikan Alsintan di Kecamatan Suak Tapeh, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Panen pun lebih efisien dan hasilnya mencapai 5 kali lipat.

Banyuasin, Sains Indonesia – Aktivitas panen padi di Suak Tapeh sejatinya telah dimulai sejak akhir tahun lalu hingga sekarang. Sejumlah petani bersyukur atas bantuan mekanisasi dari Balitbangtan. Menurut Korlap kegiatan di Suak Tapeh, Muchtaridi SP, keberadaan mekanisasi seperti Combine Harvester sangat dibutuhkan petani Suak Tapeh untuk memanen lahan sawah mereka yang luasnya mencapai 1.068 hektare.

“Sawah di sini sangat luas, ada 1.068 hektare. Hari ini kami panen di lahan milik Gapoktan Suak Tapeh Jaya, Desa Lubuk Lancang. Luasnya 43 hektare, dari potensi panen 876 hektare. Seluruhnya varietas Ciliwung. Dengan bantuan Combine Harvester, hasilnya panen menjadi cukup bagus, rata-rata hasilnya mencapai 5 ton per hektare GKP (Gabah Kering Panen),” ujar Muchtaridi dalam keterangan tertulis yang diterima Majalah Sains Indonesia (2/1).

Muchtaridi memaparkan, dengan menggunakan combine harvester, panen padi jadi lebih cepat dan efisien, terutama dari sisi waktu dan tenaga kerja. Mekanisasi juga dinilainya efektif menekan kehilangan hasil. “Pada musim panen ini, keberadaan hama tikus mengancam sawah petani yang siap panen. Belum lagi intensitas hujan yang tinggi beberapa hari terakhir, menyebabkan sawah tergenang cukup tinggi,” paparnya.

Dengan kondisi tersebut, tambah Muchtaridi, petani terpaksa harus berpacu dengan waktu untuk menentukan waktu panen yang tepat. “Bila air surut, kita  langsung turunkan combine harvester untuk memanen padi. Kalau dilakukan secara konvensional, tentu lebih sulit buat kita (memanen) dalam skala luas dengan waktu yang singkat. Tapi dengan combine havester, panen sawah 1 hektare hanya membutuhkan waktu 5 jam,” lanjut Muchtaridi sumringah.

Menurut Penanggung Jawab Upaya Khusus (Upsus) Badang Litbang Pertanian (Balitbangtan) di Banyuasin, Prof Dr Risfaheri, penerapan full mekanisasi di lahan pasang surut, menjadi suatu kewajiban. Mekanisasi harus diterapkan mulai dari saat mengolah tanah, menanam, sampai dengan panen. “Lahan milik petani di sini relatif luas, sekitar 2-6 hektare per KK (Kepala Keluarga), sementara tenaga kerja terbatas dan mahal,” ujar Risfaheri.

Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) itu menambahkan, dinamisnya perubahan cuaca serta kondisi pasang surut di Banyuasin, juga memaksa petani untuk lihai mengantisipasi. “Pada saat sawah tergenang dan pasang, kita tidak mungkin menurunkan alsintan ke sawah. Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan sarana prasarana alsintan yang cukup memadai, pembuatan tanggul dan perbaikan tata air di lahan pasang surut, sehingga kendala kendala tersebut dapat diatasi,” pungkasnya.

Faris Sabilar Rusydi

 

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia